Tidak Ikut Aksi, Memangnya Kenapa?

Habis Gejayan, jangan lupa Manahan. Seruan aksi untuk mahasiswa di kota Solo. Apa yang mahasiwa hari ini perjuangkan? Hingga di beberapa titik kota di Indonesia seperti Solo, Jogja, Tegal, Semarang, Bandung, Surabaya, hingga Jember turun ke jalan?

Bahkan mahasiswa di Jakarta pun memenuhi DPR RI di Senayan. Penuh jalanan oleh beragam warna alamamater, kibaran bendera ormawanya, hingga bendera NKRI.

Aku mengikuti perkembangan aksi mahasiswa lewat sosial media. Aku mahasiswa, tercatat namanya di salah satu Institut Agama Islam Negeri, tapi aku tidak turun ke jalan. Bukan karena aku merasa tidak penting turun ke jalan, melainkan aku selalu mengingat apa yang Emakku pesankan, “Gak usah ikut-ikutan demo. Apalagi demo rektor atau dosen, mereka itu gurumu. Kita harus ta’dim pada guru.”

Pesan emakku sebetulnya tidak begitu relate dengan permasalahan hari ini. Jadi belum begitu kuat untuk menjadi alasanku untuk tidak ikut turun ke jalan. Tapi biar aku sedikit merenungi pesan emakku kala aku dulu masih duduk di semester satu.

Emakku merupakan lulusan pondok NU. Dia tidak lulus Sekolah Menengah Atas, tapi dia yang pertama kali mengajariku tentang haid dan istihadhoh. Dia juga mengajariku tentang nasab keluarga, hak waris antara laki-laki dan perempuan, hingga kedudukan keduanya (laki-laki dan perempuan) lewat kitab yang pernah dia baca di pondoknya.

Berlatar belakang pondok NU, bukan menjadi hal yang aneh jika hal utama yang dia junjung adalah akhlaknya pada guru. Bahkan karena saking getolnya diajari untuk menghormati guru, aku pernah sampai turun dari sepeda ketika lewat di depan rumah guruku padahal rumahnya di pinggir jalan raya beraspal, bukan di pinggir jalan setapak. Kebetulan waktu itu guruku sedang menyirami tanaman di depan rumahnya, aku langsung berhenti dan menuntun sepedaku sambil berucap salam padanya.

Hingga sekarang, aku begitu gugup jika berhadapan dengan guru maupun dosen. Terkadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, ada beberapa mahasiswa lain yang bisa tertawa-tawa sambil guyonan dengan dosen, bahkan sampai berbicara bahasa jawa ngoko. Apa resepnya? Sedang aku, dengan dosen yang sama, tidak bisa sesantuy itu. Aku selalu salah tingkah, bahkan tidak bisa tenang alias was-was ketika bertemu dengan dosen. Aku takut melakukan hal yang membuatku tidak ta’dim padanya, atau aku takut melukai perasaannya atas perbuatanku yang sengaja atau tidak.

Emakku begitu tunduk pada gurunya karena gurunya merupakan Kyai. Yang ia harapkan hanyalah keberkahan ilmu dari Kyainya, karena suatu yang berkah, akan selalu membahagiakan walaupun sedikit, katanya.

Emakku meminta aku untuk tidak ikut mendemo rektor, karena mungkin dia berpikir bahwa rektor sama dengan Kyai, seorang atasan yang tidak akan sewenang-wenang dalam mengambil kebijakan, yang setiap ajarannya berlandaskan atas kebenaran dan kebaikan rakyat banyak. Yang ucapannya selalu merupakan bisikan hati nuraninya, dan setiap perilakunya merupakan cerminan setiap ucapan baiknya.

Begitulah nasihat Emmakku.

Aksi demo tanggal 24 September 2019 ini, kupikir bukan untuk mendemo Kyai dalam konsepan Emakku. Mereka mendemo kebalikannya, bukan Kyai, tapi atasan. Atasan yang kebijakannya tidak berlandas pada kebenaran dan kebaikan rakyat banyak. Atasan yang membuat rusuh kebijakan, yang hanya menguntungkan penguasa, dan merugikan rakyat kecil. Mereka turun, untuk merubah keadaan. Mahasiswa turun, untuk menjadi sekelompok agen perbuahan yang mengontrol sosial.

Tapi aku, tidak turun ke jalan.

Ada status WA dari dosenku yang menarik. Statusnya di bagikan ulang oleh hampir seluruh mahasiswa-mahasiswanya. Isinya, ketika menjadi mahasiswa, dosenku tidak ikut demo di jalanan. Di status WA nya dia menulis beberapa alasannya tidak ikut demo di jalanan. Beberapa diantaranya, ia menulis tentang ketidak tepatan waktunya sholat, datang kuliah dan mengumpulkan tugas kadang masih terlambat, membaca novel seperti Scarlet Letter yang kadang-kadang tidak tuntas, yang terkadang ketika presentasi hanya nunut, yang kebelum bisaannya untuk membahagiakan orang tua. Setidaknya lima alasan tadi membuatnya tidak turun ke jalan untuk demo, melainkan dia berpikir untuk mendemo dirinya sendiri. Jadi dosenku, mendemo dirinya sendiri.

Dan aku, tetap tidak turun ke jalan.

Aku ingat pada ucapan Babsbee yang selalu ia ucapkan tidak hanya kepadaku, tapi kepada teman-teman sehimpunan. Katanya dengan mantap, sebuah kesia-siaan untukku walau aku sholat dhuha, sholat tahajjud, sholat sunnah 1000 rokaat, tapi aku tidak melaksanakan sholatku yang lima waktu. Artinya, ibadah-ibadah sunnah yang aku kerjakan menjadi suatu kesia-siaan jika aku melalaikan ibadah wajibku.

Turun ke jalan untuk demo, adalah ibadah sunnah untukku. Pun juga, merupakan fardhu kifayah untukku.

Sunnah, karena walau tidak kukerjakan aku tidak mendapat dosa.

Kifayah, karena tanpa aku pun, demo masih tetap ramai. Demo masih tetap akan terus berjalan. Aksi demo tidak akan kehilangan esensi apapun walau aku tidak ikut di dalamnya.

Lalu apa yang aku lakukan?

Ibadah wajibku, dan fardhu ‘ainku.
Untukku, datang memenuhi panggilan himpunan untuk melanjutkan perkaderan, merupakan salah satu ibadah wajib dan fardhu ‘ain yang harus aku tunaikan.

Wajib, karena jika tidak kukerjakan aku akan mendapat dosa. Aku takut berdosa pada elemen yang memercayakan tugas perkaderan di pundakku. Pada panitia, pada tim, juga pada penyelenggara.

Aku memegang teguh pada apa yang sering pula diucapkan Babsbee padaku. Dosa pada Tuhan sejatinya tidak lebih besar ketimbang dosa kita pada manusia. Ketika kita melakukan dosa pada Tuhan, kita tinggal bertaubat dan memohon ampun padaNya, Dia pasti akan mengampuni karena Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Tapi jika kita berdosa pada manusia, tidak akan termaafkan walau sampai liang lahat kesalahan kita jika mereka tidak memaafkan kita.
Fardhu ‘ain, karena jikalau aku tidak hadir memenuhi panggilan himpunan, maka bisa jadi perkaderan akan tersendat. Karena hanya ada beberapa orang yang mau memenuhi panggilan himpunan, karena selebihnya, datang memenuhi panggilan Gejayan dan Manahan.

Duluuuu sekali, aku memilih untuk absen demo daripada absen kelas. Bukan karena aku mengejar nilai presensi, karena aku tidak pernah bolos juga. Yang kukejar adalah, penghormatan dan penghargaan terbesarku pada dosen yang sudah menantiku di ruang kelas.

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi turun aksi.


Comments

Popular Posts