Filsafat Pertanian: Siapa Bilang Anak Filsafat Ngga Bisa Jadi Petani?
Baru
saja aku bertemu dengan tiga orang temanku di himpunan. Syahru dan Hilda.
Setelah sebelumnya melakukan agenda himpunan, aku dan Hilda juga Syahru tidak
langsung bergegas pulang. Kami masih mengobrol. Obrolan malam ini didominasi
oleh si Hilda, anak jurusan Aqidah Filsafat yang merasa salah jurusan karena
tempat KKL.
Jadi
begini, si Hilda bulan lalu melaksanakan program tahunan kampusnya, Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) di salah satu desa di daerah Boyolali. Sebetulnya ketika
si Hilda sedang melaksanakan KKL, dia sempat mengeluh juga kepadaku. Tapi malam
ini ia ulang lagi keluhannya dengan didengarkan oleh aku dan Syahru.
Hilda
mengeluh karena tempat KKL nya dirasa tidak cocok bahkan tidak ada sangkut
pautnya dengan jurusan yang sedang ia tekuni. Hilda merupakan anak jurusan
Aqidah Filsafat Islam sedangkan tempat KKLnya merupakan dinas Lembaga
Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP), notabene bergelut dalam urusan
pertanian.
Dalam
beberapa pertemuan dengan petinggi dan mitra yang bekerjasama dengan LPTP,
Hilda dan 2 teman lainnya saling melongo ketika ditanya jurusan apa. Mereka tidak
percaya diri saat menyebut jurusan mereka, karena mereka pikir bahwa tidak ada
sangkut pautnya antara lembaga LPTP dengan jurusan Aqidah Filsafat Islam. “Anak
Filsafat kok KKL nya di LPTP sih? Mau ngapain? Mikirin filsafat pertanian?”
Tanya Syahru meledek.
Semakinlah
Hilda meledak-ledak mengungkapkan betapa tidak beruntungnya dia jika dibanding
dengan teman-teman seangkatannya yang lain yang mendapat tempat KKL di
Balitbang atau di KUA. Ia merasa bahwa KKL di Balitbang atau di KUA lebih
linier dengan jurusannya daripada di LPTP.
Aku
masih tetap mendengarkan keluh kesah Hilda yang sebetulnya sudah pernah ia
ceritakan. Sesekali aku tertawa jika Syahru meledek sambil bilang filsafat
pertanian. Berkali-kali pula aku merasa Hilda bisa begitu beruntung bisa KKL di
LPTP daerah Boyolali yang tempatnya tepat di bawah lereng merapi.
“Hild,
tapi kan dulu filsuf itu merenung di atas gunung.” Kataku. Harusnya Hilda
bantah dengan, “Ya tapi aku kan KKL nya di lereng gunung mbak, bukan di gunung
kayak filsuf.” Tapi dia tidak memedulikan, ia terus bercerita betapa selama 30
hari lamanya ia merasa tidak berguna sebagai mahasiswa filsafat karena KKL di
tempat yang berkecimpung dalam bidang pertanian.
Puncaknya,
ia melontarkan keluhannya terhadap kajur dan DPL nya. “Ih aku yakin aku tuh
korban kerja sama mereka aja. Masa’ anak filsafat KKL di pertanian.”
Aku ketawa lagi mendengar Syahru nyeletuk, “Iya itu filsafat pertanian.”
WKWKWKWKWKWKWKWK.
Lalu
dengan seksama aku menata duduk, aku pandang Hilda dan Syahru. Hilda sudah tidak
bercerita, Syahru juga sudah tidak nyeletuk lagi.
“Sebetulnya,
kenapa kita ini meskipun kuliah institut tapi disetarakan dengan universitas?”
Aku membuka percakapan. Baik Syahru maupun Hilda menerawang langit yang
terpendar oleh cahaya lampu gazebo.
“Hild,
kalau pertanian itu dipandang dari kacamata anak pertanian, itu sudah biasa.”
Hilda
ber “oh” ingin membuka suara. Aku tidak mengizinkannya untuk memotong
pembicaraanku. Buru-buru aku meneruskan, “Kalau pertanian dilihat dari sudut
pandang anak filsafat, itu baru luar biasa. Akan ada keberagaman pemikiran
nantinya. Apalagi kita anak institut yang setara dengan universitas.
Universitas diambil dari kata universal. Filosofinya adalah, anak universitas
harus bisa berpikir universal tentang ilmu. Apalagi kata Kuntowijoyo, semua ilmu
itu saling berkaitan. Apakah sebuah ketidak mungkinan jika pertanian dipandang
dalam sudut pandang filsafat? Apakah sebuah kesalahan jika anak filsafat memandang
pertanian? Tidak. Justru di situlah seharusnya kita. Bagaimana kemudian jurusan
yang kita tekuni sekarang bisa diterapkan di segala bidang.”
Aku
bernapas, lalu minum. Kubiarkan Syahru dan Hilda mencerna apa yang aku
kalimatkan tadi. Lalu aku melanjutkan, “Nah, siapa yang bisa mengaitkan antara
jurusan dan bidang di mana kita ditempatkan? Ya kita sendiri. Hanya kamu yang
bisa menemukan titik temu antara filsafat dengan pertanian. Hanya aku yang bisa
menemukan titik temu antara sastra dengan pertanian. Hanya Syahru yang bisa
menemukan titik temu antara komunikasi dengan pertanian. Ketika kita bahkan
tidak bisa melakukan itu, berarti kita tidak begitu mengenal jurusan kita atau
bahkan tidak mengenal sama sekali jurusan kita.”
“Apalagi
kamu anak filsafat, kupikir itu jurusan yang paling fleksibel karena filsafat
merupakan akar dari segala ilmu pengetahuan.” Tambahku lagi.
Hilda
sudah mengambil ancang-ancang untuk menanggapi kalimatku tadi. Kubiarkan, lalu
benar saja. Ia buka suara. “Oh iya mbak, sama kayak yang dibilang sama dr. Lili,
dia itu suka melakukan penelitian tentang pupuk, dan berhasil. Dan dia sekarang
kerja di bidang pertanian dan ketemu aku di LPTP. Dia nanya jurusanku apa dan
ketika aku jawab filsafat, beda banget sama yang lain tanggepannya. Kalau yang
lain cenderung melongo juga karena nganggep jurusan filsafat kok KKL di bidang
pertanian, kalau dokter ini malah ngasih pencerahan buat aku.”
Aku
bertanya, “Gimana katanya?”
“Katanya,
ngga apa-apa jurusan filsafat KKL di bidang pertanian. Yang terpenting adalah
kita harus apa ya mbak kata dia, aku lupa istilahnya…”
Syahru
menimpali, “Apa? Pintar?”
Hilda
menjawab, “Bukan.”
“Emmm,
inovatif?”
“Bukan.”
“Inisiatif?”
“Bukan?”
“Mandiri?”
“Ya
itu salah satunya, tapi ada lagi. Apa ya?”
“Kreatif?”
“Nah
ya! Kreatif.”
Syahru
bersorak “yes” sedang Hilda melanjutkan kalimatnya yang terputus tadi. “Jadi
kita itu kan KKL ngga ada pendampingnya, ada pengampunya tapi kan ga selalu
tinggal sama kita. Pesan pak dokter tadi kita dituntut untuk menjadi mandiri
dan kreatif memang. Gimana caranya kita bisa menerapkan ilmu filsafat kita di
bidang pertanian tadi. Bahkan bapaknya itu cerita kalau dia dulu malah kuliah
di jurusan teknik elektro, tapi sekarang kerjanya di pertanian.”
“Wah
itu, teknik pertanian.” Syahru menimpali lagi dan berhasil membuat aku dan
Hilda tertawa lagi.
“Nah
ya itulah Hild, harus diingat kita itu harus bisa menjadi universal karena
filsosofi kita adalah universitas yang akar sama dengan universal.”
Hilda
seperti mendapat bahan untuk dibincangkan lagi. “Iya mbak, aku jadi kepikiran
mau ngelihat pertanian anggrek dari segi filsafat. Karena anggrek itu pun juga
punya filosofinya sendiri.”
“Bisa
jadi, kamu bisa bidik dari segi estetikanya.”
“Ngga
cuma itu mbak, aku bisa lihat dari segi proses tumbuhnya anggrek yang begitu
panjang.”
“Wah
betul itu. Nanti kalau butuh perihal komunikasi, jangan lupa kabari aku ya!”
kata Syahru.
Kemudian
kami tertawa lagi.
Malam
itu seakan gazebo hanya milik kami bertiga. Kami meniadakan entitas lain yang
sayup-sayup juga mendengarkan kami berdiskusi tentang filsafat dan pertanian.

aku ingin menjadi tanaman anggrek dong qaq agar bisa diteliti oleh mba Hilda :")
ReplyDeleteKirain mauuu jd komunikasi, biar bisa ngubungin.......
DeleteInspiring others.. .uwuw
ReplyDeleteHey, you too!
Delete