Dari Aku Untuk Kampusku, Bukan Sebaliknya
Agak aneh juga sih, karena beberapa hari lalu juga pada bulan September beramai-ramai di sosial media menuliskan hashtag menolak lupa, untuk memperingati 14 tahun Munir, seorang pejuang HAM tewas, dan sekarang aku menulis dengan tagline yang berbeda yakni; menolak menyerah.
Aku setuju, takdir memang Tuhan yang pegang kendali, namun nasib, kita yang tentukan sendiri. Menyerah bukan pilihan, bukan pula sebuah jawaban.
Aku sempat frustasi beberapa hari, kejadiannya sekitar 4 tahun yang lalu ketika aku sedang duduk nanar didepan laptopku, dengan jaringan internet yang pas-pasan sinyalnya, aku memberanikan diri untuk membuka pengumuman kelulusan SBMPTN. Kumasukkan beberapa persyaratan login yang dibutuhkan, lalu kupilih menu pengumuman. Nanar mataku menatap layar, terpampang jelas tulisan didepanku meminta maaf, atas ketidak lolosanku menjadi mahasiswi kampus yang aku idam-idamkan. Permintaan maaf didalam layar itu tak mampu meredakan kenyerian hatiku yang luar biasa perih. Aku merasa runtuh seketika.
Sempat aku menangis seharian, memandangi kartu ujian, memandangi beberapa foto gedung universitas yang aku idamkan, membayangkan aku berjalan di paving lapangnya, memakai baju pilihanku dengan bahagia, mengikuti kuliah yang aku yakin berbeda dengan kelas di SMA, punya banyak teman yang bisa aku ajak bercengkrama, dan beberapa adegan anak kampus ala-ala FTV di televisi. Kini bayangan itu harus pupus bersamaan dengan kenyataan bahwa aku tidak lulus – masuk perguruan tinggi yang aku ingini.
Aku mencoba sekali lagi, mendaftarkan diri pada salah satu kampus yang sama sekali tak pernah menjadi idamanku. Kampus ini, yang kelak menjadi kampus tempat aku menempa diri menjadi mahasiswi.
Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Sebuah institusi yang mau menerimaku untuk menjadi salah satu mahasiswinya. “Meski aku tidak masuk ke universitas yang aku idam-idamkan, setidaknya aku diterima di jurusan yang aku inginkan; sastra Inggris.” Pikirku untuk menguatkan hatiku menghadapi kenyataan.
Serangkaian agenda mahasiswa baru sudah aku lewati dengan sedikit ogah-ogahan, OSPEK, makrab antar jurusan, penutupan orientasi mahasiswa, hingga mengisi KRS. Aku resmi menjadi mahasiswi jurusan sastra Inggris IAIN Surakarta.
Beberapa teman bertanya padaku lewat sosial media, lewat instagram, WhatsApp, dan facebook. Aku sedikit malas, atau lebih tepanya malu untuk mengungkapkan aku berkuliah dimana, karena kampusku tidak termasuk salah satu kampus terkenal. Kujawab seadanya sambil menahan malu yang tiada terkira.
“Banyak kok yang kuliah di Universitas yang sama sekali ga terkenal. Ga cuma kamu.” lagi-lagi aku yang menguatkan diriku sendiri.
Musim bertanya kuliah dimana sudah usai. Dan aku sudah beberapa bulan mengikuti perhelatan kampus, berkutat dengan materi kuliah yang tak berkesudahan, mulai dari pagi hingga siang, bahkan sampai sore. Benar jika secara aktivitas aku bisa disebut sebagai mahasiswa, namun secara jiwa dan raga, aku tidak benar-benar menjadi mahasiswa. Aku tidak merasa menjadi aku, karena tempat yang aku ingini bukanlah disini. Bukan di kampus ini.
Bahkan sampai aku menginjak semester 3 pun, aku masih merasakan hal yang sama. Bisa dikatakan aku belum move on. Sama seperti orang-orang yang belum bisa move on kebanyakan, aku juga masih suka stalking informasi universitas idamanku via twitter. Semakin aku menyelami cuitan twitternya, semakin aku sakit. Ya Tuhan, kenapa aku bisa semalang ini tidak bisa berada di kampus yang aku ingini.
Lagi-lagi aku merenung, berhari-hari, hingga sebulan, dua bulan, tiga, sampai enam bulan. Masuk pada semester empat, lima. Kemudian di tahun ketiga, aku mulai aktif berkegiatan di organisasi. Aku diajak berdiskusi, dipaksa membaca buku itu dan ini. Lalu muncul dalam benakku, apakah aku akan terus-terusan seperti ini? Merasa bahwa aku tidak menjadi mahasiswa yang benar-benar utuh hanya karena aku tidak masuk univeritas yang diimpi. Merasa tidak mampu bergerak karena sebuah gengsi.
Aku terdiam sejenak. Menahan napas, lalu aku hembuskan perlahan.
Pada satu titik aku tersadar, menjadi mahasiswa bukan tentang membanggakan dimana tempat kuliahku berada. Banyak orang berlomba-lomba, bahkan adik-adik kelas yang masih berjuang di tingkat SMA, masuk Universitas terkenal bukan untuk menjadi pribadi yang meningkat kualitas dirinya, tapi hanya untuk menaikkan gengsi ketika ditanya kuliah dimana.
Aku pun demikian, dan aku menyesal.
Aku sempat berpikir bahwa Tuhan tidak memberiku keadilan, tapi apakah aku sudah bertindak adil terhadap apa yang sudah digariskan oleh Tuhan?
Sempat aku ingin menyerah, frustasi yang tak sudah-sudah.
Aku terlalu sibuk mencari-cari kebaikan kampus untuk bisa dibanggakan dihadapan banyak orang, hingga aku lupa untuk menjadi mahasiswa yang bisa membuat setiap elemen kampusku bangga. Sibuk mengutuk kampus yang tidak terkenal tanpa punya solusi untuk membuatnya terkenal. Aku teralu larut untuk menaikkan gengsi lewat kampus, tanpa pernah berfikir untuk menjadikan kampusku menjadi kampus bergengsi lewat diriku.
Aku yakin, UI, UGM, UIN Syarif Hidayatullah, dan beberapa kampus terkenal dan bergengsi lainnya juga sama merangkaknya seperti kampusku sekarang.
Raditya Dika, lahir dari kampus UI. Bondan Prakoso, jurusan Sastra Belanda, Ayu Utami, jurusan Sastra Rusia juga lahir dari kampus UI. Pemikir Islam seperti Nurcholis Madjid, Ayzumardi Azra, lahir dari kampus UIN Syarif Hidayatullah. Dea Anugerah, Sabda Armandio, penulis mojok yang terkenal itu, lahir dari kampus UGM. Bahkan, Jokowi, juga lahir dari kampus UGM.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mereka terkenal karena lahir dari kampus-kampus bergengsi, ataukah mereka menjadi terkenal lalu kampus mereka juga ikutan terkenal?
Takdir boleh menempatkan aku di kampus manapun, bahkan di kampus yang tidak terkenal sekalipun, tapi nasibku, aku yang pegang kendali. Dari nasibku, aku akan membawa kampusku terkenal seperti kampus-kampus yang menjadi idaman kebanyakan orang.
Aku setuju, takdir memang Tuhan yang pegang kendali, namun nasib, kita yang tentukan sendiri. Menyerah bukan pilihan, bukan pula sebuah jawaban.
Aku sempat frustasi beberapa hari, kejadiannya sekitar 4 tahun yang lalu ketika aku sedang duduk nanar didepan laptopku, dengan jaringan internet yang pas-pasan sinyalnya, aku memberanikan diri untuk membuka pengumuman kelulusan SBMPTN. Kumasukkan beberapa persyaratan login yang dibutuhkan, lalu kupilih menu pengumuman. Nanar mataku menatap layar, terpampang jelas tulisan didepanku meminta maaf, atas ketidak lolosanku menjadi mahasiswi kampus yang aku idam-idamkan. Permintaan maaf didalam layar itu tak mampu meredakan kenyerian hatiku yang luar biasa perih. Aku merasa runtuh seketika.
Sempat aku menangis seharian, memandangi kartu ujian, memandangi beberapa foto gedung universitas yang aku idamkan, membayangkan aku berjalan di paving lapangnya, memakai baju pilihanku dengan bahagia, mengikuti kuliah yang aku yakin berbeda dengan kelas di SMA, punya banyak teman yang bisa aku ajak bercengkrama, dan beberapa adegan anak kampus ala-ala FTV di televisi. Kini bayangan itu harus pupus bersamaan dengan kenyataan bahwa aku tidak lulus – masuk perguruan tinggi yang aku ingini.
Aku mencoba sekali lagi, mendaftarkan diri pada salah satu kampus yang sama sekali tak pernah menjadi idamanku. Kampus ini, yang kelak menjadi kampus tempat aku menempa diri menjadi mahasiswi.
Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Sebuah institusi yang mau menerimaku untuk menjadi salah satu mahasiswinya. “Meski aku tidak masuk ke universitas yang aku idam-idamkan, setidaknya aku diterima di jurusan yang aku inginkan; sastra Inggris.” Pikirku untuk menguatkan hatiku menghadapi kenyataan.
Serangkaian agenda mahasiswa baru sudah aku lewati dengan sedikit ogah-ogahan, OSPEK, makrab antar jurusan, penutupan orientasi mahasiswa, hingga mengisi KRS. Aku resmi menjadi mahasiswi jurusan sastra Inggris IAIN Surakarta.
Beberapa teman bertanya padaku lewat sosial media, lewat instagram, WhatsApp, dan facebook. Aku sedikit malas, atau lebih tepanya malu untuk mengungkapkan aku berkuliah dimana, karena kampusku tidak termasuk salah satu kampus terkenal. Kujawab seadanya sambil menahan malu yang tiada terkira.
“Banyak kok yang kuliah di Universitas yang sama sekali ga terkenal. Ga cuma kamu.” lagi-lagi aku yang menguatkan diriku sendiri.
Musim bertanya kuliah dimana sudah usai. Dan aku sudah beberapa bulan mengikuti perhelatan kampus, berkutat dengan materi kuliah yang tak berkesudahan, mulai dari pagi hingga siang, bahkan sampai sore. Benar jika secara aktivitas aku bisa disebut sebagai mahasiswa, namun secara jiwa dan raga, aku tidak benar-benar menjadi mahasiswa. Aku tidak merasa menjadi aku, karena tempat yang aku ingini bukanlah disini. Bukan di kampus ini.
Bahkan sampai aku menginjak semester 3 pun, aku masih merasakan hal yang sama. Bisa dikatakan aku belum move on. Sama seperti orang-orang yang belum bisa move on kebanyakan, aku juga masih suka stalking informasi universitas idamanku via twitter. Semakin aku menyelami cuitan twitternya, semakin aku sakit. Ya Tuhan, kenapa aku bisa semalang ini tidak bisa berada di kampus yang aku ingini.
Lagi-lagi aku merenung, berhari-hari, hingga sebulan, dua bulan, tiga, sampai enam bulan. Masuk pada semester empat, lima. Kemudian di tahun ketiga, aku mulai aktif berkegiatan di organisasi. Aku diajak berdiskusi, dipaksa membaca buku itu dan ini. Lalu muncul dalam benakku, apakah aku akan terus-terusan seperti ini? Merasa bahwa aku tidak menjadi mahasiswa yang benar-benar utuh hanya karena aku tidak masuk univeritas yang diimpi. Merasa tidak mampu bergerak karena sebuah gengsi.
Aku terdiam sejenak. Menahan napas, lalu aku hembuskan perlahan.
Pada satu titik aku tersadar, menjadi mahasiswa bukan tentang membanggakan dimana tempat kuliahku berada. Banyak orang berlomba-lomba, bahkan adik-adik kelas yang masih berjuang di tingkat SMA, masuk Universitas terkenal bukan untuk menjadi pribadi yang meningkat kualitas dirinya, tapi hanya untuk menaikkan gengsi ketika ditanya kuliah dimana.
Aku pun demikian, dan aku menyesal.
Aku sempat berpikir bahwa Tuhan tidak memberiku keadilan, tapi apakah aku sudah bertindak adil terhadap apa yang sudah digariskan oleh Tuhan?
Sempat aku ingin menyerah, frustasi yang tak sudah-sudah.
Aku terlalu sibuk mencari-cari kebaikan kampus untuk bisa dibanggakan dihadapan banyak orang, hingga aku lupa untuk menjadi mahasiswa yang bisa membuat setiap elemen kampusku bangga. Sibuk mengutuk kampus yang tidak terkenal tanpa punya solusi untuk membuatnya terkenal. Aku teralu larut untuk menaikkan gengsi lewat kampus, tanpa pernah berfikir untuk menjadikan kampusku menjadi kampus bergengsi lewat diriku.
Aku yakin, UI, UGM, UIN Syarif Hidayatullah, dan beberapa kampus terkenal dan bergengsi lainnya juga sama merangkaknya seperti kampusku sekarang.
Raditya Dika, lahir dari kampus UI. Bondan Prakoso, jurusan Sastra Belanda, Ayu Utami, jurusan Sastra Rusia juga lahir dari kampus UI. Pemikir Islam seperti Nurcholis Madjid, Ayzumardi Azra, lahir dari kampus UIN Syarif Hidayatullah. Dea Anugerah, Sabda Armandio, penulis mojok yang terkenal itu, lahir dari kampus UGM. Bahkan, Jokowi, juga lahir dari kampus UGM.
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah mereka terkenal karena lahir dari kampus-kampus bergengsi, ataukah mereka menjadi terkenal lalu kampus mereka juga ikutan terkenal?
Takdir boleh menempatkan aku di kampus manapun, bahkan di kampus yang tidak terkenal sekalipun, tapi nasibku, aku yang pegang kendali. Dari nasibku, aku akan membawa kampusku terkenal seperti kampus-kampus yang menjadi idaman kebanyakan orang.

Comments
Post a Comment