Denganmu, Memelihara Kucing pun Aku Tidak Takut
Sudah lama rasanya aku tidak berada pada posisi
seperti ini. Terpaku menatap layar laptop, sesekali mencengkeram rambut dan
mengacaknya, walau tidak gatal, aku menggarukinya. Adalah sebuah aksi untuk
memunculkan opini yang padahal ketika aku di kamar mandi, begitu banyak
bermunculan di sana-sini, ketika duduk di atas jamban, begitu banyak narasi
yang buru-buru ingin dituliskan, bahkan sudah tersusun kalimat dengan rapi,
yang sayangnya masih ada dalam pikiran.
Di depan laptopku – untuk tidak menyebutnya laptop
yang kupinjam dari Ragil karena laptopku hilang, ada seekor hewan yang begitu
kucintai dan kusayangi dan kurawat benar-benar supaya tidak mati, bernamalah
seekor hewan tersebut Cebi, kucing campuran ras Jawa dan ras Persia. Tidak ada
ras manapun yang lebih unggul, karena semua ras sama, sama-sama
dikotak-kotakkan oleh manusia, sama-sama diciptakan oleh Tuhan pencipta alam
semesta.
Sudah satu bulan lebih dua hari Cebi tinggal bersama
kami, ini artinya dia kami adopsi tepat tanggal 17 Mei sebelum bulan Juni. Melalui
akun instagram adopsi kucing regional Solo, kami menemukan Cebi –yang belum
bernama, tervideo dengan satu kucing lain berwarna putih, ada keterangan open adoption yang dalam Bahasa
Indonesia artinya buka adopsi, kemudian tertera di bawahnya kontak yang bisa
dihubungi. Aku masih ingat, waktu itu sedang bulan puasa, dan pesanan baju
sedang banyak-banyaknya. Karena menyediakan jasa layanan CoD daerah Sukoharjo,
aku dan Babsbiku mengantar beberapa baju untuk pemesan di daerah Tawangsari,
Sukoharjo. Padahal kami tinggal di Kartasura, yang jaraknya menuju Tawangsari
kurang lebih 32 km dengan waktu tempuh kurang lebih 46 menit. Tidak menjadi
masalah bagi kami, karena kepuasaan pelanggan adalah prioritas yang ingin kami
kedepankan.
Maghrib datang lewat perantara adzan, buka puasa
sudah sangat diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan. Daripada mati lemas karena
dehidrasi, kami memilih untuk menepi dan mampir ke warung makan, di depannya
ada sebuah potongan kayu bertuliskan bakso 5000. Sebetulnya banyak sekali
warung yang menyediakan porsi bakso seharga 5000 di sepanjang jalanan
Sukoharjo, tapi maghrib itu kami –atau lebih tepatnya aku tertarik pada alas
tulisan yang terbuat dari kayu tersebut.
Begitu lain daripada yang lain. Ya
kalau diperhatikan, itulah konsep berjualan, kendati menu yang kamu sajikan
sama, tapi kamu harus punya hal lain yang membuat jualanmu berbeda. Sebuah inovasi
akan menarik pelanggan lebih banyak. Warung inilah contohnya. Di tengah hingar
bingar exploitasi kertas dan besi untuk menjajakan informasi menu, warung ini
memilih konsep sederhana memakai kayu sebagai pembedanya. Dinding-dinding
penopang warungnya pun memakai kayu, tidak ada lantai beton atau keramik,
alasnya dibiarkan saja beralasakan tanah, tidak ada dinding bata yang dilapisi
semen, tidak ada plafon atau asbes, pokoknya aku begitu terposona pada
kesederhanaannya.
Masuklah aku ke warung tersebut, dan bertambahlah
kekagumanku karena ada bagian lain di luar warung yang bisa dijadikan sebagai
tempat santap makanan. Di bawah pohon ceri – disini disebutnya talok, di pinggiran sawah, dengan cahaya
lampu putih yang tidak terlalu redup pun tidak begitu terang, satu set meja
kayu gelondongan lengkap dengan dua gelondong panjang kayu untuk duduk, di
sanalah kami menjatuhkan pilihan untuk menghabiskan makanan. Angin hilir mudik
menyapu wajah dan setiap jengkal tubuhku, walau sudah memakai jilbab dan
pakaian panjang, aku tetap saja merasakan sejuk yang hampir disebut kedinginan.
Makanan datang dan ‘ittadakimas’ dari kami berdua sudah dilantunkan. Masing-masing
dari kami sudah boleh menyantap makanan yang dipesan. Setelah semuanya habis,
aku mulai membuka buku diari untuk menuliskan kenangan hari ini. Babsbiku yang
duduk di depanku berkutat dengan gawaiku karena baterai gawainya sudah
kehabisan daya.
Di tengah-tengah kesibukan kami yang berbeda, ia
tiba-tiba membuka suara. “Aku akan mengadopsi kucing.”
Aku mendengar suaranya, tapi tetap saja daguku
terpangku di atas meja makan sambil menulis diari. Tidak begitu ku respon kalimatnya
tadi, aku masih fokus menulis.
Memelihara kucing sebetulnya menjadi salah satu
impianku sejak aku kecil. Tapi keluargaku di rumah tidak pernah
memperbolehkanku untuk melakukannya. Mereka trauma pada kali terakhir mereka
memelihara kucing. Kami pernah memelihara kucing betina, warnanya coklat dan
begitu penurut walau tidak diberi nama. Dia tidak pernah berak atau pipis di
sembarang tempat, tidak menghambur-hamburkan makanan, dan dia tidak suka
menyakiti tuannya. Sayangnya, hidup tidak melulu tentang mencecap kebahagiaan
dan kesenagan sebagaimana yang kita inginkan, naas menjemput kucing betina
kami. Ia mati setelah sekarat oleh gigitan anjing milik tetangga yang lari dari
kandangnya. Aku ingat Ummiku melalui penceriteraan nenekku, menangis melihat
kucing peliharaan keluarga kami mati. Berbagai upaya penyembuhan –kecuali pergi
ke dokter karena belum ada dokter hewan di desa kami, sudah dilakukan. Tapi
begitulah hidup, kematian harus ada supaya ada yang namanya kelahiran.
Kucing betina kami mati.
Tidak putus asa, keluarga kami mencoba mengadopsi
kucing baru. Laki-laki berwarna hitam. Tapi tak selang beberapa lama kami
tinggal bersamanya, aku yang masih begitu kecil sudah kena cakar dan anggota
keluarga kami mendapatkan perlakuan kasar yang sedemikian rupa. Mungkin juga
akibat dari keengganan kami untuk move on
dari kucing betina yang mati, kami memilih untuk memasukkan kucing jantan
hitam itu ke dalam karung kemudian
menempatkannya jauh dari rumah kami. Sejak saat itu, keluargaku tidak pernah
membolehkan anggota keluarganya memelihara kucing.
Selain itu, pikiranku akan kucing jaman sekarang
butuh begitu banyak perawatan. Mulai dari vaksin khusus hewan, pergi ke salon
beberapa kali sebulan, memandikannya sekali dalam beberapa minggu, makanan yang
‘katanya’ harus dibeli khusus jika tidak mau bulunya rontok, pasir tempatnya
berak yang harus diganti setiap hari, hingga pernak-pernik yang harus tersedia
untuk menemaninya bermain sepanjang hari. Aku, mahasiswi yang uang jajannya
tidak lebih besar dari biaya dua kali smoothing
di salon, mikir-mikir lagi untuk memelihara kucing. Apalagi mahasiswi aktif
sepertiku begitu jarang tinggal di kosan, kecuali jika sedang tidak aktif.
Selain kendala ekonomi yang belum mandiri, waktu yang kurasa kurang cukup untuk
merawat kucing menjadi beberapa alasan yang menjadikanku takut untuk memelihara
kucing.
Jelaslah dari berbagai macam ketakutan yang aku
rasakan, suara Babsbiku yang tiba-tiba itu tidak begitu menarik perhatianku.
Beberapa saat berselang, menggunakan gawaiku yang
ada di tangannya, ia mulai berbicara dengan suara seberang. Percakapan yang
dilakukan keduanya membuatku berhenti menulis dan mendengarkan baik-baik topik
pembicaraan mereka.
Babsbiku menanyai lawan bicaranya di seberang.
Ditanyakan olehnya kucing yang membutuhkan tuan adopsi masih tersedia atau
tidak. Aku tidak begitu jelas mendengar respon dari lawan bicaranya, hingga
Babsbiku melanjutkan percakapan. Ia menanyai apa saja yang harus disediakan,
berapa puluh ribu yang harus ia bayarkan jika ingin mengadopsi kucing tersebut,
juga dimana lokasi kucing tersebut berada untuk melakukan penjemputan. Setelah
ucapan terimakasih, percakapan mereka selesai. Aku terperangah, masih belum
paham sepenuhnya dengan apa yang baru saja ia dan teman teleponnya bicarakan.
Babsbiku memberi tahuku riwayat obrolannya dengan
lawan bicaranya tadi. Ia mengajakku berembuk untuk menentukan hari penjemputan
kucing –yang sekarang bernama Cebi. Aku mengaku kaget dan tidak begitu percaya
dengan ulah Babsbiku tadi, tapi selepas membayar makanan, seusai sholat maghrib,
masih dalam perjalanan menuju Kartasura, ia memintaku untuk membuka peta yang
dikirimkan oleh lawan bicaranya tadi.
Kulihat hanya butuh waktu 45 menit menuju lokasi
yang dituju, aku memberitahukannya pada Babsbi, kemudian ia memutuskan untuk
menjemput kucing –yang sekarang bernama Cebi malam itu juga. Di sepanjang
perjalanan aku deg-degan. Kalau tidak deg-degan, aku mati. Aku gelisah akan
keberhasilanku untuk memelihara kucing. Tapi berkali-kali aku membisik pada
diriku bahwa bukan hanya aku yang akan merawat Cebi, tapi Babsbiku juga. Hey dude, sudah berapa puluh ketakutan
yang kamu lewati ketika bersama Babsbimu. Raising
a cat is not that easy when you do it your self, but hey remember! You are with
your whole somebody, it is different.
Sampailah kami di lokasi tujuan, dan ditawarkanlah
pada aku dan Babsbiku dua kucing yang sama-sama berumur tiga bulanan. Warna
putih dan warna Cebi. Aku langsung tertarik pada Cebi. Aku memutuskan untuk
memilihnya, dan kami bawa pulang Cebi setelah berbincang sebentar dengan
empunya.
Cebi malam itu begitu pendiam. Aku masih ingat mata
bulatnya yang memandang ke arahku. Aku dan Babsbi tidak mempersiapkan apa-apa,
bahkan kandang sekalipun. Untunglah kami memakai helm, niat yang ingin kulakukan
untuk memasukkan Cebi ke dalam tas serbagunaku, kuurungkan. Aku meletakkan Cebi
ke dalam helmku. Sepanjang perjalanan menuju Kartasura, Cebi tidak begitu
banyak mengeong. Ia hanya diam saja melingkar mengikuti bentuk helm. Sesekali
melihat keluar kemudian melingkar lagi. Jelasnya, kami tidak begitu kesusahan
membawa Cebi pulang.
Daripada waktu kami dibuang untuk mengghibah, Babsbi
mengusulkan untuk memberi nama kucing yang sedang melingkar di helm tadi –yang
sekarang bernama Cebi. Beberapa nama yang tidak biasa saling kami usulkan, tapi
nama Cebi yang mengena diantara semua pilihan nama. Aku begitu ingat, di bawah
lorong menuju flyover Manahan, kucing
yang melingkar membentuk helm tersebut kami panggil Cebi.


Comments
Post a Comment