Sabtu, Coklat,
Sebetulnya
ini adalah hari sabtu, hari yang seharusnya kau keluar menjamu dirimu dengan
serangkaian aktifitas yang bisa mengusir kesedihanmu, atau kegalauanmu, atau
kepenatanmu, atau kemuakanmu. Tapi kau malah memilih untuk berdiam diri di
dalam kamar yang sempit. Tak mempedulikan apapun selain memanjakan kesedihan dan
berlarut dalam kesepian. Kenapa kau begitu senang melakukan hal demikian bahkan
saat hari sabtu sekalipun! Aku keheranan.
Kau
beranjak hanya untuk membuang urin sisa air putih kemarin. Walau kau sudah
beberapa lahap menikmati coklat almond, kau belum benar-benar makan pagi ini.
Tapi kau sudah menyetor fases, membuang urin, tanpa mencuci muka, tanpa mencuci
badan. Kau tak khawatir apapun. Tak takut jika ada seorang tiba-tiba datang
kemudian mendapatimu seperti orang gila sendirian di dalam kamar. Masih beruntung
mereka tak mendapatimu mati teriris pisau di pergelangan nadi, pikirmu.
Kau hanya
senang menghabiskan waktumu dengan mengunyah. Karena aktifitas itu yang
menurutmu paling mudah. Hanya mengunyah. Tak perlu menghabiskan berjoule-joule
tenaga. Kau kunyah semua apa yang ada di depanmu. Dan minum, dan berbaring. Kau
mendengarkan lagu, lalu menyanyikannya. Kau menikmati lagu yang kau nyanyikan. Kau
resapi larik per larik. Kau maknai dalam-dalam sambil beradegan layaknya kau
seorang model video klip lagu yang kau nyanyikan.
Kau tak
takut apapun. Tak takut didapati sedang seperti orang gila sendiri di dalam
kamar. Masih untung kau tak didapati sedang sekarat kehabisan napas karena
sianida, pikirmu. Lalu kau melanjutkan nyanyianmu.
Kau tak
takut apapun.
Kau berteriak
lantang menyanyikan lagu kepergian. Walau tak takut apapun, kau sebenarnya
takut. Nyanyianmu tak sampai didengar orang yang kepadanya nyanyianmu
dipersembahkan. Kau bimbang. Tapi kau terus menerus bernyanyi.
Kau menjambak
rambutmu. Membiarkan otot-ototnya tertarik dan kau merasa lebih mendingan. Kau mengusap
kepalamu sendiri. Kau mengusap pipimu sendiri. Kau membayangkan betapa kau
begitu kesepian di tengah cahaya mentari yang berpendar. Kau membayangkan
betapa kau begitu sia-sia dengan hanya berbaring dan menatap alang-alang. Betapa
kau begitu ingin sekali punah terbebas dari tekanan-tekanan.
Kau makan
lagi coklatmu. Kau sesap manisnya. Kau kunyah almondnya. Kau mengenang lagi. Coklat
buatmu tak membawa rasa yang mendingan. Sama saja. Hanya sebagai bahan
kunyahan. Tak bisa membawa perubahan. Pada moodmu, pada perasaanmu, pada
suasana kamarmu. Kau hanya terus mengunyah. Mengunyah. Mengunyah.
Dan sekarang
giliranku menceritakanmu.
Aku hanya
terus mengetik. Mengetik. Mengetik. Dan terus mengetik.

Comments
Post a Comment