Dongeng



“Ayo tinggal di California!” sahutku, random seperti biasanya. Ia mengiyakan saja. Ia mungkin tahu kalau aku sedang tidak bercanda. Atau dia malah menganggap hanya bercanda. Yang penting aku sudah mengajaknya.

Aku ingin hidup bersamanya. Menghabiskan waktuku bersamanya. Benar-benar bersamanya. Di California. Atau ya tidak apa-apa kami tidak hidup di California. Kami hidup di desa. Ya, kita hidup di desa. Kamu, dan aku, dan dua nama yang kau rencanakan denganku. Camelia, itu usulmu. Berasal dari bahasa arab yang artinya bunga. Aku bertanya bukannya Camel itu artinya unta? Kau tertawa sambil mengataiku bodoh. Lalu kau jelaskan. Akuimu kau ingin memberikan bunga terbaik untukku. Itulah mengapa sejak dari pertama kali bertemu kau tak pernah memberiku mawar. Padahal aku ingin kau memberiku bugenvil. Bagus saja namanya. Dan nama satu lagi, Shopia. Kau setuju, itu nama yang aku usulkan. Kau bertanya kenapa, lalu kujawab, supaya cinta pada kebijaksanaan. Dari bahasa Yunani, Philosophia. Kebijaksanaan.

Kita hidup bersama. Kau, aku, Camelia dan Shopia, buku-bukuku, gitarmu, seekor anjing dan kucing, dan empat sepeda. Aku yang ingin kita tak perlu punya mobil. Kita tak akan terlalu butuh, karena kita sudah punya sepeda. Nanti akan aku ceritakan bagaiaman kita menghabiskan waktu kita bersama dengan mereka yang tinggal bersama kita.

Rumah kita begitu besar. Aku juga yang ingin. Halaman dan lahan belakang rumah kita luas. Di desa mana ada rumah minimalis. Mana ada latar yang sempit.

Di serambi, kau dan aku biasa duduk berdua. Sebelum datang Camelia dan Shopia. Di serambi, kau dan aku berdua saja. Kau menyetem gitar, menyanyikanku sebuah lagu, aku mendengarkan. Setelah itu, aku dengan bukuku, membacakanmu beberapa kutipan, kau yang mendengarkan. Kau menatapku, aku pun menatapmu. Aku bertanya banyak hal, kau menjawab semua hal. Aku begitu penasaran tentang dirimu, sedang kamu sudah begitu mengetahui siapa aku. Kau memberitahuku bagaimana cara mencintai, aku memberitahumu bagaimana rasanya dicintai. Aku kemudian tertawa, kau juga. Soreku dan soremu begitu sempurna.


Comments

Post a Comment

Popular Posts