Memelihara Semut
Aku adalah anak kosan. Karena aku bukanlah anak gembala. Aku merupakan salah satu dari sekian banyak anak kosan yang suka menyetok makanan ringan di kosan dengan tujuan supaya bisa dijadikan bahan cemilan ketika tiba-tiba dirundung kelaparan di tengah malam. Aku suka cemilan manis, bahkan aku bisa saja tidak memesan cemilan apapun ketika nongkrong di cafe asalkan di tengah-tengah meja ada kaleng berisikan gula. Aku suka nyemil gula.
Tapi
dikosan berbeda, aku tidak menyetok gula, tapi aku menyimpan gula. Aku menyetok
makanan-makanan manis. Seringkali aku menyetok biskuit isi krim rasa-rasa yang
harganya tidak sampai 5000 rupiah. Ketika teman-temanku berkunjung dan kusuguhi
biskuit tersebut, mereka seringkali berkomentar, “Kamu mengeluarkan makanan
keras lagi ya?”
Aku
hanya tersenyum. Masih untung kalian kusuguhi makanan keras, bukan minuman
keras.
Dikosanku
selain terdapat stok cemilan yang manis, juga terdapat kaleng biskuit good
time yang berwarna merah. Seringkali temanku sudah berusaha membukanya
dengan penuh kekuatan, karena memang susah dibuka, menemui isi yang tak sesuai
dengan gambar yang ada di kalengnya.
Mereka
kadang-kadang mengumpat, kadang-kadang ada juga yang tidak mengumpat, karena
sebelum membuka kaleng tersebut, yang tidak mengumpat bertanya terlebih dahulu
apakah isi yang ada di dalamnya asli atau tidak. Aku jawab tidak, lalu mereka
diam.
Kaleng
good time itu terkadang terlupakan untuk ditutup oleh mereka yang telah
membukanya. Sehingga tak jarang semut berjajar bagai pulau-pulau untuk masuk ke
dalamnya.
Aku
tak lantas menyuruh mereka pergi, atau menggoyang-goyangkan kaleng, atau
menutup kalengnya. Justru aku malah memperhatikan tingkah laku mereka.
Aku
bingung bagaimana menceritakan tingkah laku semut-semut tersebut. Yang jelas, mereka
suka berhenti sejenak untuk saling mempertemukan ujung kepala mereka dengan
ujung kepala semut yang lain. Entah sedang salaman atau cipika-cipiki atau
malah adu tanduk, aku tidak tahu. Karena begitu kecil, tak kelihatan.
Semakin
lama semakin banyak semut yang menghampiri kaleng good time itu. Apa
mereka tidak tahu ya kalau isi dari kaleng itu tidak berisi biskuit yang
seharusnya, biskuit yang tidak sesuai dengan gambar di kalengnya, biskuit yang
bukan biskuit good time. Tapi kan aku bukan Sulaiman, aku tidak bisa
berbicara dengan semut.
Dari
kejadian itu, lama kelamaan aku menjadi terbiasa dengan kedatangan semut di
dalam kamarku. Kadang mereka menemplok di seprei yang kejatuhan selai blueberry,
kadang mereka mengerumuni tetesan madu yang tak sengaja kujatuhkan saat aku
mengoleskannya ke bibir, tak jarang juga aku melihat semut-semut itu hanya
berjalan ke arah yang tak kuketahui kemana akhirnya.
Lalu
suatu pagi aku merasa kesepian. Aku sengajakan diriku menjatuhkan butiran gula
dilantai kosan. Dan benar saja, tak selang beberapa menit, sudah berkerumun
semut hitam dan mereka bergotong royong menjilati butiran-butiran gula itu.
Di
hari berikutnya, aku merasa kesepian lagi. Kusengajakan lagi diriku untuk
meneteskan kecap di lantai kosan. Aku menunggu beberapa kedipan, begitu ajaib.
Semut-semut sudah berkerumun menjilati tetesan warna hitam pekat itu. Besoknya,
ketika aku bangun tidur, sudah kutemui lantai kosku bersih tanpa noda hitam.
Aku kemudian
suka pada semut. Aku bahkan tak pernah menyuruh mereka pergi. Tak pernah
menyapunya. Tak pernah menyingkirkannya ketika dia sedang berjalan atau nemplok di rotiku, atau menyemprotinya dengan obat semut, atau sengaja menggambar
garis lurus disepanjang lintasan mereka berjalan, tidak, aku tidak pernah
melakukan itu.
Aku merasa
semut-semut itu begitu menghargai kesengajaanku menyediakan apa yang aku punya kepada
mereka. Tak peduli walau hanya setetes, walau hanya sebutir, walau tak sesuai
dengan gambar, semut selalu bersyukur dengan menghabiskan apapun yang aku berikan.


Comments
Post a Comment