Buang Sampah



Aku tidak suka buang sampah sembarangan. Karena aku pikir itu bukan perilaku manusia. Tapi aku juga tidak tahu itu perilaku siapa. Aku lihat manusia yang sama denganku juga seringkali membuang sampah tidak pada tempatnya. Di jalan raya misal, ketika berhenti di lampu merah, atau ketika berhenti di area peristirahatan yang bukan terakhir, atau ketika datang nonton konser dangdut, atau ketika cfdan di alun-alun, atau di jalan Slamet Riyadi.

Tapi aku tetap yakin buang sampah sembarangan bukanlah perilaku manusia. Sehingga aku selalu menyelipkan sampah di saku celana atau baju, bahkan tak jarang aku memasukkan sampah-sampahku ke dalam tas. Kemudian ketika sudah sampai di kosan, aku selalu membuangnya ke tempat sampah yang tersedia di depan kamarku. Setelah penuh, pasti ada tukang sampah yang mengambilnya. Entah dia buang kemana sampahnya. Mana aku tahu.


Lalu pada suatu waktu, aku berkendara naik sepeda motor di jalan raya yang entah satu atau dua atau tiga ada mobil yang lewat. Jalanan tidak terlalu padat dan ramai, dan waktu itu selepas hujan aku keluar kosan sambil mengendarai motor di jalanan. Walau beraspal, bisa kutemui banyak genangan air dimana-mana. Maklum saja, banyak lubang walau sudah beraspal. Setelah kulalui lubang-lubang aspal yang tergenang, aku melihat adanya kubangan air yang menyusup hingga jalanan. Kucari sumber air yang membuat aku merasa berjalan didalam sungai padahal aku sedang diatas jalan yang beraspal. 

Oh ternyata disampingnya ada selokan yang tak kuasa menampung voulme air sehingga air itu menyeruak keluar menuju jalanan dan menggenangi sebagian jalan beraspal.

Tiba-tiba, ada mobil yang lewat disamping kiriku dan naas mobil itu mengebut. Menciprati tubuhku yang berada disamping kanannya. Basah kuyup bajuku padahal aku tidak kehujanan, tapi aku kecipratan, tapi lebih pas disebut keguyuran, tapi tidak dari atas, melainkan dari samping.


Benar-benar lah mobil itu membuat aku berdecak kesal. Semoga Tuhan mengampuni mobil-mobil yang entah sengaja atau tak sengaja merugikan pengendara motor seperti aku, menjadi basah kuyup karena kobangan air hujan yang bercampur tanah dan lumpur berwarna coklat.


Dari kejadian itu aku semakin rajin untuk tidak buang sampah sembarangan. Aku jadi semakin yakin, selokan itu tak bisa menampung volume air yang besar karena tersumbatnya aliran air karena banyaknya sampah-sampah sembarangan yang masuk didalam alirannya. Ish, orang-orang ini apa tidak pernah mengalami kejadian seperti aku apa ya, dalam hatiku bertanya-tanya.


Lalu di akhir bulan, aku bertemu dengan petugas sampah yang suka mengambil sampah dikosanku. Aku bertemu disamping jembatan yang dibawahnya terdapat sungai-sungai yang tidak ada 7 rasa, hanya ada 7 warna-warni sampah. Aku melihat plastik sampahku berada diantara tumpukan sampah-sampah yang ia buang dibawah jembatan.

Hah?

Comments

Popular Posts