Not Cake, Only Greet
Karena aku juga tak tahu harus merayakannya seperti apa, mengucapkan dengan cara bagaimana, karena konsep dalam kepala sudah habis tak tersisa, dan kamu bukan hanya sekali ini berulang tahun, tapi sudah kali ke berapa kalau aku boleh tahu? Dua puluh kali? Ah berbeda dua digit denganku. Bukan usia muda lagi untuk kamu yang umurnya sudah menginjak puluhan kedua. Hidup ini keras, tapi tak berarti kita harus mengeras.
Sebenarnya hari dimana kamu dilahrikan sudah terlewatkan. Bahkan mungkin saja krim kue ulang tahun yang dibawakan orang-orang terdekatmu sudah habis tanpa sisa. Lalu aku harus bagaimana? Mengucapkan “selamat ulang tahun” pun sudah terlampau biasa. Diberi coklat dan boneka pun ku yakin sudah pernah kau rasakan sebelumnya. Aku bukan ingin menjadi beda, hanya saja aku ingin melakukan hal yang tak biasa, yang mungkin tak semua orang yang kamu kenal bisa dan mau melakukannya.
Kamu suka membaca, itulah kenapa aku suka menulis. Kamu terkadang menangis, itulah kenapa aku terkadang harus terjaga. Aku tahu kamu bukan perempuan manja, itulah kenapa aku harus jadi perempuan yang mandiri. Kadang kita tak sadar kita saling melengkapi, kadang kita tak sadar kita begitu saling mengenal diri kita sendiri. Entah aku mengenal kamu, entah kamu mengenal aku.
Aku teringat pada harapanmu tahun lalu saat hari ulang tahunku. “Jangan bosan jadi temanku, ya?” Entah ketika menginjak Merbabu entah ketika menapak Lawu, kau sengaja mengosongkan kertas, mengambil momennya dari atas, kemudian mengirimkan ucapan selamat pada temanmu ini yang sedang memeringati harinya menetas. – burung kali menetas -__-
Lalu aku, aku tidak ingin mengulang konsepmu itu. Aku tak perlu mendaki Lawu atau Merbabu, hanya duduk didepan computer jinjing – yang kau tahu dengan baik ia tak hentinya berkedip – mengolah kata supaya terkesan emejing, kemudian memberimu kesan kado ulang tahun yang ku yakin belum pernah diberikan sebelumnya.
Selamat hari jadi kedua puluh, Onty.
Semoga kamu langgeng dengan imanmu,
Berdamai dengan hafalanmu,
Penuh harap pada Tuhanmu,
Kamu berhak memilih akan kamu apakan tulisanku ini, jelasnya, aku hanya bisa memberimu ini.
Menangislah, karena “new birthday means new tear, you aren’t anymore called as dear, however death is nearer.”
Salam dua puluh,
Aiq Edogawa~
Sebenarnya hari dimana kamu dilahrikan sudah terlewatkan. Bahkan mungkin saja krim kue ulang tahun yang dibawakan orang-orang terdekatmu sudah habis tanpa sisa. Lalu aku harus bagaimana? Mengucapkan “selamat ulang tahun” pun sudah terlampau biasa. Diberi coklat dan boneka pun ku yakin sudah pernah kau rasakan sebelumnya. Aku bukan ingin menjadi beda, hanya saja aku ingin melakukan hal yang tak biasa, yang mungkin tak semua orang yang kamu kenal bisa dan mau melakukannya.
Kamu suka membaca, itulah kenapa aku suka menulis. Kamu terkadang menangis, itulah kenapa aku terkadang harus terjaga. Aku tahu kamu bukan perempuan manja, itulah kenapa aku harus jadi perempuan yang mandiri. Kadang kita tak sadar kita saling melengkapi, kadang kita tak sadar kita begitu saling mengenal diri kita sendiri. Entah aku mengenal kamu, entah kamu mengenal aku.
Aku teringat pada harapanmu tahun lalu saat hari ulang tahunku. “Jangan bosan jadi temanku, ya?” Entah ketika menginjak Merbabu entah ketika menapak Lawu, kau sengaja mengosongkan kertas, mengambil momennya dari atas, kemudian mengirimkan ucapan selamat pada temanmu ini yang sedang memeringati harinya menetas. – burung kali menetas -__-
Lalu aku, aku tidak ingin mengulang konsepmu itu. Aku tak perlu mendaki Lawu atau Merbabu, hanya duduk didepan computer jinjing – yang kau tahu dengan baik ia tak hentinya berkedip – mengolah kata supaya terkesan emejing, kemudian memberimu kesan kado ulang tahun yang ku yakin belum pernah diberikan sebelumnya.
Selamat hari jadi kedua puluh, Onty.
Semoga kamu langgeng dengan imanmu,
Berdamai dengan hafalanmu,
Penuh harap pada Tuhanmu,
Kamu berhak memilih akan kamu apakan tulisanku ini, jelasnya, aku hanya bisa memberimu ini.
Menangislah, karena “new birthday means new tear, you aren’t anymore called as dear, however death is nearer.”
Salam dua puluh,
Aiq Edogawa~

Comments
Post a Comment