Pengupas Oranye di Pagi Buta

Yuhuu, pagi ini tertanggal 21 November 2016, matahari bersinar dengan cerah. Sumpah demi apa, padahal tadi malam hujan dan petir menyambar bergaungan dengan gelap malam, mencekam dan membuat para penghuni rumah merah menarik rapat-rapat selimut yang mampu menghangatkan tubuh mereka, terasa lebih nyata dibandingkan dengan hangat pelukannya yang hanya berada diambang angan saja.

Pagi menjelang siang, namanya juga anak kontrakan, pasti di meja makan mereka masih belum tersedia sepiring nasi goreng hangat untuk sarapan. Bukan karena kami miskin atau tidak punya uang, tapi memang malas untuk keluar rumah menggandrungi ibu penjual sarapan di pagi buta yang standard pagi buta anak kontarakan adalah jam 7 pagi lebih sedikit lah. Mendingan masih leyeh-leyeh santai deh di kasur kamar  sambil mengambangkan imajinasi lewat novel yang semalam bertengger setia menemani tidur empunya. Itu sih berlaku untuk penghuni yang tidak ada jadwal kuliah pagi hari. Kalau yang ada kuliah pagi dan ternyata ujian, ya ga bisa lah leyeh-leyeh santai seperti kami. Harus segera memacu motor supaya tidak terlambat.

Sukses ya ujiannya!

Untuk yang tinggal di rumah merah pagi ini adalah mereka yang kelas paginya kosong. Kayaknya hari senin ini bukan hari yang dijuluki sebagai monster day, deh buat mereka, instead of calling today by it, they called today by Monday-racle day!

Kenapa sih?

Hari senin bagi mereka sudah seperti hari yang ajaib. Iyalah! Sekeluarnya salah satu penghuni pagi ke halaman rumah, dia malah menemukan mangga yang berjatuhan.
Selaras seperti sebuah panen instant, yang ditemukan adalah mangganya udah pada berjatuhan diterpa badai sugro tadi malam. Ya enak lah ya, ga perlu manjat-manjat kayak monyet, yang kalo pas diatas pohon gaboleh noleh kebawah supaya ga grogi dan takut jatuh, pas diatas juga perjuangan banget karena kaleng-kaleng (semut merah) juga dengan sigap menyangka kaki dan tangan kita yang naik pohon sebagai bagian dari dahan, alhasil mereka nemplok di lengan kita. Yang biasanya terjadi nih, kaleng-kaleng itu bukan hanya nemplok, tapi juga menggigit tangan! Parah banget ga sih, ga ada sopan-sopannya. Atau kalo ga gigit, mereka otomatis akan berjalan menjalari tangan dan kaki kita, ya geli lah bos!
Kembali ke panen mangga dihalaman tadi, aku yang kebetulan memanen melonjak kegirangan karena mangga yang berjatuhan ga cuma sebuah, tapi berbuah-buah. Keren ga tuh istilahnya? Ada empat buah mangga yang berhasil dikumpulkan, dan jika disandingkan dengan hasil panen kemarin sore sebelum badai datang, jumlahnya ada tujuh buah. Amazing!

Selang beberapa waktu, Lia yang awalnya pengen nyapu halaman, karena ngeliat mangga yang bergerombol bak boyband Indonesia yang sekarang udah bubar, antusias banget! “Aiq, Aiq!” panggilnya dari sumber yang tidak diketahui dimana ia berada. Yang jelas sih masih disekitar kontrakan.

Impuls ku merepon panggilan dengan cepat dan sontak membangunkan aku dari duduk yang udah agak lama di depan laptop. Mencari-cari dimana Lia berada hingga kemudian, “Kamu dimana, Chef?” panggilan chef yang disandangnya didapat karena dia suka sekali memasak.

“Aku disini nih.” Longoknya dari balik jendela tua yang berkaca.

Seketika aku membuka pintu dan ikut bergabung dengannya. Melihat dia sudah memegang salah satu mangga yang bagian atasnya pecah, menampakkan warna oranye manis yang sedikit tertutup tanah dibagian pinggirannya. Lia mencuci mangga kemudian aku menuju dapur untuk mengambil pisau.

Aroma manis mangga madu yang nampak dan sangat pas digenggam membuat lidah rasanya ingin segera melahapnya. Warna oranye cerah dengan serat tipis kasat mata membuatnya nampak lebih memesona.

Seperti biasa, aku yang memang udah pakar banget dalam hal kupas mengupas, berdiri di depan pintu sambil memotong mangga menjadi tiga bagian, karena yang mau makan kan ada tiga orang.

Onty!” panggilku dari luar. Sontak membuat gadis yang sedari tadi bertengger dikamar dengan novel yang dibacanya juga kebetulan sampulnya berwarna oranye keluar dan duduk didepan pintu memandangi aku yang masih memotong mangga.

Seperti halnya yang dilakukan dia yang kupanggil Onty tadi, Lia juga duduk memandangiku dengan ekspresi wajah yang dalam rautnya aku tahu berkata, “Lama banget sih Aiq motongnya.”

Kupegangi mangga dengan sangat sigap supaya keseimbangannya tidak goyah. Aku membagikan sepotong untuk Onty dan potongan lainnya kepada Lia. Aku sendiri juga mendapatkan bagian yang sama. Pangkal, tengah, kemudian ujung. Terus seperti itu hingga hanya pelok mangga yang tersisa.

Pengupasan mangga yang tak semua orang bisa mengupas mangga dengan baik – menurut standardku – pagi itu aku mengupasnya dengan versi terbaikku. Yang biasanya sebagian dari mereka mengupas mangga malah membikin orang lain bergidik ngeri melihat cara memegang mangga dan pisau yang tak selaras, aku mengupasnya dengan lihai. Ternyata bakat mengupas mangga ini ku turuni dari Mamihku. Miss you, mom!

Mangga yang dalam novel SERUAK karya Vinca Callista mempertemukan Bonie dengan Mada, juga mempertemukan Mada dengan Faye, mangga menurut versiku pagi ini malah mempertemukan aku dengan syukurku.

Badai tadi malam yang menurut sebagian orang mengundang ketakutan yang mendalam, untuk sebagian penghuni rumah merah ini malah mengundang kebersamaan yang tak biasa di pagi harinya. Mangga mempertemukan kami untuk duduk bersama diluar rumah. Jika bukan karena mangga, Onty bisa saja tak mau duduk dipinggiran pintu menunda aktifitasya membaca novel untuk sekedar menunggu bagian mangganya. Lia juga tak akan mau menghentikan niatnya untuk menyapu halaman kemudian duduk seperti Onty untuk sama-sama mendapat bagian. Dan aku sendiri, jika bukan karena mangga juga tak akan meninggalkan layar laptop berkedipku untuk mengupasnya dan bersusah payah memutar otak untuk memotong sama rata menjadi bagian mangga yang dibagi tiga.


Mangga membuatku mengiyakan statement yang mengatakan bahwa orang Indonesia suka membesarkan hal sepele. Ungkapan itu ada benarnya, karena kesepelean kami berkumpul pagi ini menjadikan aku bepikir besar. Momen seperti ini akan dikenang jika nanti ia menghilang. Aku selalu menikmati waktu ini, karena ia tak akan mau kembali dan kejadian ini pasti tak akan pernah terulang lagi.

Comments

Popular Posts