Ceritaku Tentang Laki-Laki HMI di 9 Windu Ia Berdiri
Hari
ini ulang tahun Himpunanku, Himpunan Mahasiswa Islam. Organisasi yang
mengajariku berbagai macam hal. Sudah 9 windu ia berdiri, apa tidak pegal ya?
Di pasal 2 Anggaran Dasar dituliskan bahwa HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 untuk waktu yang tidak ditentukan dan berkedudukan di tempat pengurus besar. Pasal 2 ini menjadi bukti bahwa himpunanku benar-benar berdiri tepat pada tanggal hari ini, 72 tahun lalu.
Di pasal 2 Anggaran Dasar dituliskan bahwa HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 untuk waktu yang tidak ditentukan dan berkedudukan di tempat pengurus besar. Pasal 2 ini menjadi bukti bahwa himpunanku benar-benar berdiri tepat pada tanggal hari ini, 72 tahun lalu.
Aku sampai
hari ini bangga menjadi salah satu kader HMI. Bukan karena alumninya banyak
dimana-mana, bukan juga karena Anis Baswedan atau Prof Mahfud MD salah dua
dari sekian banyak alumninya, bukan. Tapi karena, sampai sekarang aku belum
menemukan alasannya.
Di HMI
aku ditempa berbagai macam hal. Mulai dari kanda-kanda yang begitu baik hati,
persaingan ilmu pengetahuan di arena diskusi, hingga kerelaan untuk tidak tidur
alias melekan hingga dini hari.
Jujur
saja, kanda-kanda atau abang-abang atau kasarnya laki-laki HMI tidak ada yang
tidak memiliki kebaikan hati. Ya kalau kalian tidak sepakat dengan pernyataan
ini, ya tidak masalah, jelasnya aku tidak pernah merasa tersakiti oleh
laki-laki HMI. Dan aku tidak pernah
disakiti oleh mereka. Mereka semua baik padaku, mereka begitu menganggapku,
mereka semua...kalau kutuliskan disini, niscaya aku akan terharu.
Selain
kanda-kanda yang baik hati, ada juga ayunda-ayunda yang tidak baik hati. Aku tak
begitu suka pada ayunda-ayunda yang tidak baik hati ini, dan aku tidak ingin
menjadi ayunda yang tidak baik hati. Tapi tetap saja namanya juga ayunda, ya
aku tetap tidak baik hati.
Tak akan
pernah aku bisa menceritakan bagaiamana anak-anak HMI atau orang-orang HMI
memujiku atas kopi atau kue buatanku. Karena aku tak pernah membuatkan mereka
kopi atau kue. Aku juga tidak akan pernah bisa menceritakan bagaimana mereka
memuji kebaikan hatiku karena aku tidak pernah melakukan hal yang baik untuk
mereka.
Tapi
tentang mereka, aku bisa ceritakan hal-hal baik yang pernah mereka lakukan
untukku.
Suatu
malam aku pernah berjalan sendirian selepas berkegiatan di kampus. Jalanan sudah
sepi, hanya tersisa warmindo yang masih buka. Aku bukan orang takut preman, tapi aku penakut hantu. Waktu itu aku tidak takut hantu atau preman,
jadi aku berani-berani saja pulang malam berjalan kaki sendirian. Lagipula lampu-lampu
jalanan masih benderang. Bersinar menerangi jalanan beraspal. Lalu tiba-tiba
tanpa aku minta, seorang kanda datang menghampiriku dan memintaku untuk naik
diatas motornya. Aku diantarnya sampai kosan.
Suatu
malam aku juga pernah tiba-tiba dibawakan buku oleh seorang kanda. Ya pada
awalnya aku memang mengeluh ingin sekali belajar tentang perempuan, lalu ketika
aku selesai menjawab pertanyaannya tentang keberadaanku dimana, ia dengan
tiba-tiba sudah berada di depan kosan membawakanku setumpuk buku (kuingat
sepertinya 3-4 buku), milik Mansour Fakih, Ashgar Ali, Ayu Utami, dan siapa lagi ya aku lupa. Ia memintaku untuk lekas membaca buku-buku tersebut. Akuinya
bahwa ia masih sulit untuk menjelaskan padaku tentang perempuan, sehingga lebih
baik aku baca sendiri apa yang ingin kuketahui.
Laki-laki
HMI rasa-rasanya memang suka sekali memberi kejutan. Aku pernah juga pada suatu
sore sedang tidur siang, ya sampai sore. Tiba-tiba saja ada yang sudah berdiri
di depan pintu kosan, kukira malaikat izrail ingin menjemputku karena aku
ketahuan tidur di surup hari, ternyata waktu ku kedip-kedipkan mata, dan dengan
jelas kuidentifikasi bahwa ia adalah laki-laki HMI. Aku masih merasa mimpi,
tapi jelas-jelas dia nyata. Lalu kemudian, dia mengantariku makanan. Sate,
makanan kesukaanku. Hahaha terimakasih. Lalu aku mabok bawang merah.
Ada juga
laki-laki HMI yang begitu rela menanyaiku ingin makan apa, aku jawab terserah karena
jawaban tersebut adalah yang paling sederhana. Lagipula aku tidak suka berpikir
hal remeh temeh tentang mau makan apa, dimana, dengan siapa, semalam berbuat
apa. Lagipula juga, orang pintar bukan orang yang suka memaksa orang lain
mengerti tentang kerumitan bicaranya, tapi orang pintar adalah yang bisa
membuat orang lain mengerti dengan kesederhanaan bicaranya. Ah pantas saja Cak
Nun dan Gus Dur banyak yang menyukai, mereka sepertinya jarang sekali menggunakan
istilah kaffah, atau otritarian atau populis, atau ya begitulah.
Banyak
sekali cerita tentang laki-laki HMI yang bisa kuceritakan kebaikannya, mulai
dari mengantariku makanan, menemaniku belanja buku, menemaniku mengobrol
seharian, menemaniku nongkrong sambil mendengarkan cerita patah hatiku, sampai laki-laki
HMI yang mau berbagi kucing denganku. Banyak sekali, banyak sekali.
Aku yakin
laki-laki HMI pastilah baik. Oh iya, aku juga begitu dibuat terkesan dengan
laki-laki HMI yang yah aku begitu tahu mereka sangat bersahabat dengan rokok. Y’know,
anak-anak HMI lebih indie dari anak indie manapun. Mereka penikmat senja, kopi,
dan rokok. Tapi ketika sedang mengobrol denganku, mereka seringkali tidak
menyalakan rokoknya. Haha aku begitu salut. Atau minimal, ketika merokok mereka
akan menjauh sejengkal dariku dan dengan rela mengipas-ngipas asap yang
mengarah dan hampir mengenai hidungku. Aku begitu bangga pada mereka semua.
Di
HMI kami suka berdiskusi tentang baik, benar, Tuhan, keadilan, kesamaan,
kesetaraan, persaudaraan, Islam, toleransi, keberagaman, penerimaan, dan banyak
hal. Itulah kenapa aku yakin anak-anak HMI terutama laki-laki yang notabene
dicap jahat oleh perempuan-perempuan HMI alias HMIwati alias HMIwati yang merasa
pernah disakiti, akan selalu berbuat baik. Karena HMI tak pernah mengajarkan keburukan,
tidak pernah mengajarkan untuk menjadi tidak benar, HMI selalu mengajarkan tentang
kebaikan dan kebenaran.
Dan aku
dengan semua penceriteraanku, dekat
dengan orang-orang dan laki-laki HMI yang baik dan benar.
Btw aku
kader HMI Cabang Sukoharjo, salam kenal.


Oh jadi ini komen
ReplyDeleteBangsat ga mutu bets ricat pandora
DeleteAku dengan segala penceriteraanku
ReplyDeleteRpik sekali
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteKasian laki-laki HMI yang abis dari Semarang tidak disebut :(
ReplyDeleteHai pemilik gembok yg hilang
Delete