Mystify

Rasa-rasanya aku ingin kita terbagi menjadi bagian yang sama, “aku” dan “kamu”, sama-sama mengikhlaskan akan kenyataan yang mengabarkan bahwa kita tak bisa lagi bersama, tak bisa lagi saling melengkapi kurang dan lebih kita sebagai manusia. Tapi aku yakin, kadar sama yang aku dapatkan tak akan pernah terjadi karena ketimpangan jiwaku akan begitu alami terjadi ketika kita sudah tak bisa bersama-sama lagi. Makanya aku tak mau kau lepas, tak mau melepas, dan tak mau dilepas. 

Tapi kenapa perasaan ini begitu rumit hingga aku selalu berada dalam keadaan tersulit? Aku tak tahu masih menyukaimu atau tidak, yang jelas aku tidak baik-baik saja dalam kesendirian, begitu jelas aku menginginkanmu hadir membawa secangkir pertemuan untuk menebus secawan rindu yang kutabung sendirian. Aku tak tahu pasti masih sanggup menunggumu atau tidak, karena kelelahanku kini sudah hampir mencapai puncak. “nanti” mu yang kau alibikan sebagai janji ketika aku ingin sekali menghambur dalam pelukmu, sudah  seperti janji kadaluarsa yang kupaksakan menjadi sebuah pelipur lara. Kau tahu sendiri kalau aku tidak begitu lega hanya dengan kata-kata, sesekali aku ingin melihatmu dengan benar-benar nyata. Jemari tanganmu, rangkaian hidung yang membuatku gemas, bibir yang selalu kupuji manis dengan deretan gigi tak beraturan yang membuatmu nampak lebih manis, oh ayolah, kapan kita ketemu?

Dengan naas, kuakui kalau perasaan ini begitu memikat, perasaan ini yang justru membuatku begitu kuat untuk melawan logika yang tak satu dua kali berpendapat. Perjalanan ini menimbulkan begitu banyak tanya, seperti trik pesulap yang mampu menghilangkan benda secepat ia mengadakannya. Sampai sekarang, aku masih berada diruang tunggu tanpa pernah tahu kau masih bersedia atau tidak untuk menemukanku. 

Comments

Popular Posts