Untuk Lelaki Yang Sedang Dalam Pelukan

Jadi sudah kali keberapa hatiku dipatahkan, karena sebuah permasalahan – yang sama. Karena aku terlalu begini sehingga kamu tidak bisa menjadi nyaman – ketika kita bersama. Aku sudah berusaha, membangunkan cinta yang entah ini terlalu dini dibicarakan, atau ini bisa dibilang kebodohan yang berulang? Aku setia, kamu juga setia, tapi pada perempuan yang berbeda.

Aku pernah menanggalkan caption dalam instagramku yang isinya mengenai cara mencinta yang sesungguhnya. Dengan doa harusnya aku bisa mencintaimu diam-diam, bukan dengan kata yang diumbar-umbar.  Cukup menjadi topikku dengan Tuhan, harusnya aku sudah bisa bahagia mencintaimu yang jauh disana.

Aku terlalu salah memaknai cinta yang bahkan membunuhku sendiri secara perlahan. Ego ku yang tak pernah bisa kukesampingkan membuatku lemah dan hanya bisa memaksakan.

Cinta yang kumaknai harus selalu bersama, tak berlaku pada kita yang selalu terombang-ambing oleh raga yang berjarak. Cinta yang kumaknai harus selalu ada, tak berlaku pada kita yang sekarang tak hanya raganya, tapi juga hatinya yang berjarak.

Kamu sudah tak mau pulang, padahal aku selalu menunggu didepan gerbang.

Kamu sudah tak mau tenggelam dalam pelukan, padahal aku selalu merentangkan tangan.

Aku harus bagaimana? Berpaling pada arah lain?





aku tak mau.

Comments

Popular Posts