Memasung, Bukan Mematung
Aksi pasung
Kendeng yang dilakukan oleh 9 perempuan paruh baya, yang disebut-sebut sebagai
Kartininya – Kendeng atau mungkin Srikandinya – Kendeng, entahlah apapun
sebutannya, merekalah perempuan-perempuan yang berjuang pergi ke Jakarta untuk
memasung kedua kaki mereka. Panas-panasan mereka lawan, keinginan makan mereka
abaikan, rumah beserta anak mereka tinggalkan, hanya untuk sebuah – perjuangan.
Awalnya aku
begitu apatis, memandang mereka begitu miris. Kenapa harus mereka
membuang tenaga dengan melakukan hal – yang pada awalnya kupandang tak berguna
– jika pada akhirnya sia-sia saja? Kenapa harus dengan turun ke jalan, menunggu
100 pasang kaki ikut dipasungkan – sementara masih banyak hal lain yang harus
mereka lakukan? Keluarga, makan, orang sekitar, kehidupan normal?
Pada titik itu,
aku lupa. Ada sesuatu yang membuat aku hampir gila, membuat aku malu menjadi
manusia. Dimana hatiku saat di awal aku bertanya?
Ketulusan.
Aku lupa
menjadi mereka.
Mereka tak bisa
bermain taktik politik, karena yang mereka tahu hanyalah gerombolan itik yang
terusik. Mereka tak bisa berjuang ala mahasiswa, karena mereka hanyalah
masyarakat agrarian yang tak hidup dikota, mereka hidup bukan dengan buku-buku
di perpustakaan, tapi dengan matahari ditengah padi-padian, mereka hidup bukan
tentang lobbying di meja pemerintahan, tapi mereka hidup untuk menjadi
petani di tengah persawahan.
Lalu adanya
rencana pembangunan pabrik semen itu… membuat hati mereka begitu pilu. Wajar
saja jika mereka melawan, mempertahankan apa yang harus mereka pertahankan. Aku
lupa kalau mereka sedang berjuang, dan perjuangan tak akan hanya menjadi sebuah
kenangan. – emangnya mantan? Eh maap.
Memasung kaki,
rela berpanas-panasan dibawah terik matahari, memang itulah sebuah perjuangan
yang patut dihargai. Terlepas mereka meninggalkan anak dan keluarga, rumah dan
sanak saudara, kewajiban menjadi ibu rumah tangga sekaligus petani di desa, ya
itulah sebuah perjuangan. Dan perjuangan memang butuh pengorbanan. Setiap orang
memiliki caranya sendiri untuk melakukan sebuah perjuangan.
“You sacrifice
something then you will get something, you sacrifice nothing then you will get
nothing.” Kata-kata dosen terfavoritku yang
sempat kulupa, terngiang-ngiang kembali dan menjadi tamparan akan pernyataanku
yang di awal menimbulkan luka tanpa sengaja.
Aku bisa tidur
nyenyak malam ini tanpa perlu memikirkan lagi alasan-alasan kenapa mereka harus
rela memasung kakinya.
Aku belajar
satu hal tentang,
Ketulusan.
Salam tolak pabrik semen,
Aiq Edogawa~


Comments
Post a Comment