My Eyes Are Caught Since Forever Stranger
Setelah semuanya sudah siap,
lelaki itu memacu sepeda kayuhnya dengan seksama. Mengukur jalan dengan setiap
tetes keringat yang membulir di keningnya. Ia tak begitu peduli, diteruskannya
kayuhan sepeda itu hingga membuatnya berhenti diperbatasan gerbang dan jalan.
Ia meminggirkan diri beserta sepedahnya. Tersenyum pada arah yang sama, kemudian
menyambut kedatangan perempuan yang dengan tergopoh-gopoh menghampirinya. Tidak
sedang berlari, perempuan itu hanya berjalan cepat. Membuka tas selempangnya,
kemudian memegang sesuatu yang dirogohnya tadi dengan erat.
"Ih, jorok banget sih
sampe keringetan gitu. Kan udah gue tawarin gue jemput lu aja tadi."
perempuan itu dengan telitinya menyeka setiap bulir yang menetes pada kening
lelaki yang sedari tadi hanya tersenyum melihat perempuan itu sejak dari
kejauhan. Ia membiarkan sapu tangan terbolak-balik dikening dan sekitar
wajahnya.
"Udah?" tanyanya
dengan senyum yang masih mengulas di bibirnya.
"Ada udah dibalik batu.”
Perempuan itu mengeluarkan sebotol penuh air putih dari dalam tasnya dan
memberikannya pada Farka.
“Sate uda.” Farka berucap
sebelum membuka tutup botol dan meneguknya.
“Kuda, bego.” Akhirnya Harfa
yang mengakhiri pemainan pura-pura-bodohnya itu. Sudah tidak ada kata lagi
dalam pikirannya.
Sekali lagi, Farka meneguk
air dari botol yang diberi oleh Harfa. Farka dengan jail menuangkan air tetesan
terakhir tadi ke atas rambut Harfa. Secara dramatis Harfa terkesiap dan
langsung menarik tasnya untuk dilayangkan pada tubuh Farka.
"Jail lo, badak!"
Harfa mengumpat sekenanya. Farka hanya meringis.
"Haha abis lo ga
seceria Queen Anna pagi ini. Kenapa?" Farka membuka perbincangan.
"Biasa."
Farka tersenyum lagi,
deretan gigi rapinya berjajar rapat, tak menampakkan apa yang ada di dalamnya
sedikitpun. Keduanya terus berjalan sambil sama-sama melempar pandangan.
Bahkan tahun lalu dia tak
pernah menyangka akan bisa berjalan dibelakang perempuan yang sekarang sudah menjadi
bagian bahkan menjadi setengahnya dari hidupnya itu.
Aku
tak pernah menyangka kamu akan menjadi seberarti ini.
***
"Gausah ngaco deh
Fa." kata Farka. Membuat gadis yang sedari tadi bercerita didepannya itu
makin cemberut.
Selepas berjalan tadi, Harfa
bercerita panjang lebar mengenai orang yang sangat ia cintai. Diselipinya
beberapa harapan untuk balikan, tak begitu memerdulikan Farka yang sedari tadi mondar
mandir membawa pesanan mereka pesan dari meja pelayan menuju meja tempat mereka
duduk.
"Idih, emang apa
salahnya berharap? Dan gue yakin, dia diam-diam masih sayang sama gue. Meskipun
udah lama pisah sih."
"Pisah? Cerai
kali." Farka mencomot pisang goreng yang sudah bertengger sedari tadi
dihadapannya. Suasana warung tempatnya biasa nongkrong dengan Harfa nampak
sepi. Masih jam 8 pagi.
"Ngaco dewa. Emang gue
udah nikah?" Harfa menyuruput jeruk hangatnya. Menimang handphone yang
sedari tadi digenggamnya itu. Tak ada getaran ataupun suara.
"Lah tadi pisah-pisah
gitu lu bilangnya."
"Putus maksudnya."
Sesaat setelah mengoreksi
ucapannya tadi, Harfa terkesiap. Memandang handphone baru sahabat lelakinya itu
yang baru saja dikeluarkan dari kantong saku.
"Wiihhh, hp baru
boy?" ia mendekatkan kepalanya ke arah Farka. Membuat kepalanya terantuk
dan sontak membuat Farka menjauh dari handphone.
"Gaya banget boy, kok
ga ngajakin kembaran sama gue?" Harfa masih saja terkesima dengan
pemandangan dihadapannya.
Sudah tahu bahwa sahabat
perempuannya itu tak mau meminjam kalau tidak dipinjami duluan, Farka
menyodorkan gadget barunya itu pada Harfa.
Harfa hanya terkesima,
menimbang, lalu membandingkan dengan miliknya yang tidak bisa terbilang baru.
Farka masih saja disitu, mencomot lagi pisang goreng yang masih hangat.
"Udah Fa, gausah norak
gitu." Farka agak kesal juga melihat Harfa yang terlampau berlebihan pada
barang barunya.
"Eh eh, gue selfie
dulu. Biar afdhol, gue selfie dulu."
Ya, Farka mengulum tawa lebar
yang hanya dia saja yang tahu. Untung saja Harfa seperti perempuan lain
kebanyakan yang suka selfie sembarangan, tak sulit mendapatkan frame perempuan
yang mata bulan sabitnya sangat ia kagumi.
Sebenarnya Farka bisa saja
mengambil foto-foto Harfa dari akun media sosialnya, tapi mendapatkan langsung
dari sang empunya mata bulan sabit terasa lebih menyenangkan.
“Pulang yuk, Ka.” Ajak Harfa
setelah sekitar lebih dari setengah jam bermain dengan gadget baru milik Farka.
“Udah puas?” tanya Farka
sambil merogoh sakunya, mencari-cari koin yang ia percaya sudah ia selipkan
pagi tadi.
“Apanya? Emang gue
dipuasin?”
Farka membelalak. Matanya
melotot pada perempuan yang duduk didepannya.
“Apa sih lu Ka.” Harfa
sontak gelagapan dengan tatapan Farka, merasa telah terpergok melakukan sesuatu
yang salah.
“Akhirnya, duitnya ketemu.”
Lelaki itu tersenyum lebar kemudian mengeluarkan tangan dari saku jeansnya yang
sudah ketat dipakainya tahun ini. Sepertinya usaha naik sepeda nya dua minggu
ini masih belum membuahkan hasil juga.
“Kirain kenapa, tuyul
emang.”
“Iya, tuyul yang mencuri
hatimu.”
Harfa berlalu ke meja kasir,
nampak seringai lembut di sudut bibirnya. Farka mengikutinya dibelakang.
***
Didalam kamar tempatnya
berkutat dengan tugas dan beberapa revisi yang belum sempat disentuh, Harfa
menceritakan kegalauannya dan cerita handphone baru sahabat lelakinya dalam
sebuah diary ungu kesukaannya. Tiba-tiba tanpa harap, handphone disampingnya
bergetar.
Menampilkan sederetan huruf yang membacanya saja membuat jantung
Harfa berdegup kencang. Ia membenarkan posisi duduknya dan memasang
ancang-ancang untuk mengangkat telepon dengan suara terbagus dan terlembutnya.
“Ha…” tak sampai Harfa
mengucapkan kata yang sempurna, bunyi pip dari seberang terdengar.
Ingin sekali Harfa mengumpat
sekeras-kerasnya.
“Ingin berkata kasar,
sumpah!” ia memekik sambil memandang layar handphone nya yang padam. Dibukanya
kunci layar lalu memeriksa panggilan masuk di handphonenya.
“Kurang kerjaan banget,
badak satu!” ia melemparkan handphone nya ke atas kasur kapuknya.
Harfa merebahkan badannya
bersampingan dengan handphone yang tadi dilemparkannya. Ada suara lantunan lagu
yang didengarnya sayup diluar kamarnya. Ia ikut menyanyi sambil memutar otaknya
untuk mengingat lirik lagu yang sedang ia dengar. Seakan ada suara yang ikut
bernyanyi diseberang, Harfa ingin terus melanjutkan, tapi Harfa sudah terlampau
mengantuk. Ia tertidur sambil mulutnya mengatup melantunkan lirik lagu yang tak
sampai ia selesaikan.
***
“Lagu
apa yang mengantarmu tidur selepas malam yang penat itu?”
“Taylor
Swift – Breathe”
Harfa membuka tirai kamarnya
dan merasakan sinar mentari sudah menembus masuk matanya dengan paksa. Ia
menggeliat, mengangkat tangannya ke atas lalu menggelung rambutnya dengan
usaha. Ia kemudian masuk ke kamar mandi.
“Fa, Harfa moon!” teriak
lelaki yang suaranya sudah sangat Harfa kenal.
“Harvest kali, badak!”
Harfa masih dengan gelungan
rambut yang ia gelung penuh usaha tadi, membuka pintu rumah kontrakannya lalu mempersilahkan
Farka masuk. Harfa memandangnya dengan kening mengernyit, lalu diambilnya handuk
kecil, diusapnya kening lelaki itu dengan lembut, dan seperti biasa Farka hanya
tersenyum.
“Lu keringetan mulu boy,
perasaan.” komentar Harfa sekenanya.
“Kan gue abis sepedahan, gal.”
Farka menyandarkan tubuhnya di kursi ruang tamu rumah Harfa. Meski tak seempuk
kursi di rumahnya ia tinggal, tempat itulah satu-satunya yang mampu
menyelamatkan Farka dari kelelahannya mengayuh sepedanya tadi.
“Bagus. Biar perut ga
ngembang-ngembang amat boy kayak donat kelebihan vanili.” Harfa melewati ambang
pintu yang dikenal Farka sebagai gudang. Ia bertanya-tanya, tapi ia urungkan
untuk bertanya secara langsung. Farka hanya sanggup rebahan dan meraup oksigen
sebanyak-banyaknya. Nafasnya tersenggal-senggal, capeknya masih belum hilang.
Harfa keluar dengan palu
tergenggam ditangan kanannya. Melewati Farka yang dilihatnya masih
engap-engapan meraup oksigen. Harfa
hanya mengernyitkan kening sekali lagi.
Dari balik matanya yang tak
seluruhnya menutup, Farka melihat Harfa melintas. Yang menarik perhatiannya
saat itu adalah palu yang ada ditangan Harfa.
“Eh, gals ngapain bawa
begituan? Kalo mau nikung mah gaperlu palu.” Farka beranjak dari rebahannya.
“Ini mau nukang, badak.”
Harfa terus menuju pintu utama yang tak ditutupnya sejak Farka datang.
“Lah beda emang? Pakunya
mana?”
Harfa hanya menggeleng kepala
sambil memutar bola matanya, mendengus maklum terhadap kelakuan sahabat
lelakinya itu.
“Wih, beneran mau nukang
Fa!” Farka melonjak berdiri lalu menghampiri Harfa yang sudah sampai di balik
pintu.
Harfa mengambil kursi kayu
dan menaikinya. Tangannya sudah dengan paku dan palu. Ia menempelkan paku pada
bagian atas pintu, mengambil ancang-ancang untuk menempa paku dengan palu yang
sedari tadi berada ditangan kanannya. Suara keras khas yang ditimbulkan ketika
palu ditempakan pada paku membuat bising ruangan mereka berdua berada. Paku
sudah terpasang, Harfa kemudian turun dari kursi kayu.
“Buat apaan sih gal.”
“Hal penting boy.” Harfa
berlalu memasuki kamarnya dan keluar bukan membawa palu kali ini, melainkan
handuk kecil yang bulu-bulunya terlihat mencuat, memberi kesan yang sangat
lembut saat dipegang.
“Mau digantung disini.”
Harfa menjawab pertanyaan Farka yang hanya ia lontarkan lewat tatapan matanya
yang mengecil sambil mengaitkan handuk tadi pada paku yang sudah ia sematkan
pada pintu.
“For? What?” Farka masih
mengernyit bingung.
Kali ketiga Farka mendatangi
rumah Harfa.
“Fa, Harfalan surat Delisa.”
“Hafalan kali, badak!” Harfa
mengaitkan handuk warna merah puff pada pundak kanannya sambil melenggang
menuju pintu utama. Ia membuka kunci pintu dan mendapati lelaki sudah berdiri
dibaliknya. Tubuh Harfa kemudian hilang setengah dibalik pintu kemudian utuh
kembali dengan handuk kecil ditangan kanannya. Ia mengusap buliran yang
mengalir di dahi Farka.
Setelah membiarkan Farka
masuk, Harfa menggantungkan lagi handuk kecil tadi dibalik pintu. Kemudian
mengikuti langkah Farka.
“Boy, gue mandi dulu ya.”
Sedang Harfa menuju kamar
mandi yang ada didalam kamarnya, Farka duduk bersandar dikursi ruang tamu.
Beberapa saat kemudian Harfa
sudah didepan ambang pintu kamarnya, sudah nampak seperti atlet lari dengan
kostumnya pagi ini.
Sudah memasuki minggu kedua
keduanya melakukan rutinitas pagi di hari minggu.
“Celana gue udah pada ga
muat masa gal.” keluh Farka beberapa waktu lalu.
“Kan udah gue bilang, ada
vanili di perut lo boy.” Harfa menimpali dengan sekenanya.
Sejak saat itu kedua insan
yang bersahabat itu memutuskan untuk menghabiskan waktu minggu pagi mereka
dengan jogging sampai capek. Sebenarnya itu adalah ambisi Farka yang ingin membuang
vanili yang konon kata Harfa ada dalam perutnya dan membuatnya mengembang.
“Udah siap gal, langsung aja yuk.” Farka sudah
beranjak dari santai-santainya di kursi ruang tamu.
“Tunggu diluar, gue isi
botol dulu.” Harfa menuju dapur sedangkan Farka sudah menuju pintu untuk
menunggu Harfa di luar. Farka terkesiap sesaat memandang yang tergantung di
pintu keluar itu.
Handuk kecil yang dipakai
Harfa untuk mengelap buliran bening didahinya tadi.
Farka meneruskan langkahnya
dan melewati pintu, menunggu Harfa diluar. Nampak dibibirnya ada sesuatu yang
istilahnya sangat ia kenal sejak masih di bangku sekolah, bibirnya mengurva
keatas.
***
Semburat jingga nampak dari
kejauhan, Harfa memandangi dengan kagum dari jendela kamarnya. Ia bangun tidur
setelah terkapar karena kecapean sehabis jogging dengan Farka yang dipercaya
Harfa kekuatan berlari kecil lelaki itu tidak bisa dibandingkan dengan
kekuatannya. Memutari trotoar alun-alun kota sebanyak tujuh kali, rasanya sudah
seperti orang sedang thawaf plus sa’i versi anak muda. Ditambah lagi
sahabat lelakinya itu tak mau cepat berpisah dengan dirinya, Farka mengajaknya
membeli komik di toko langgangannya.
“Bener deh gal, kalo lu ikut
ntar gw pinjemin. Ini seri baru.” kalimat yang tak pernah bisa membuat Harfa
sanggup menolak ajakannya. Kabar mengenai rilisnya komik kesukaan Harfa memang
sudah sampai ditelinganya beberapa hari lalu.
Harfa mencium bau menyengat
yang tak sedap, bebarengan dengan hembusan angin sore itu, entah darimana
asalnya tapi ia sudah sangat kenal bau itu lebih dari siapapun di dunia ini. Ia
kemudian melenggang pergi menjauhi jendela.
Don’t
you dare to leave me here?
Farka mengayuh sepedanya
dengan kecepatan yang menurutnya sudah melampui Valentino Rossi di sirkuit
balapan. Bahkan meskipun basah terasa sangat menyenangkan sore itu, ia masih
saja benci pada hujan. Kedatangannya yang dengan sangat tiba-tiba membuatnya tak
sempat mempersiapkan segala sesuatunya.
“Baru sampe gue gal, kenapa
emang?” Farka menimpali pertanyaan kemana-aja-lo-di-chat-ga-bales-bales.
“Oh, ngga. Abis lo tiba-tiba
ngilang gitu. Gara-gara hujan ya? Udah mandi belum?”
“Ha? Iya baru aja selesai
mandi. Mamah udah nyiapin air anget tadi.” Jawab Farka kemudian. Farka lalu
menutup teleponnya setelah bunyi pip dari seberang terdengar. Farka mengulum
senyum sambil memandangi wallpaper hpnya yang seingatnya tak pernah ia ganti.
“Emang kelakuan si badak
betina.” Dengan gemas Farka menyorot mata bulan sabit yang ia kagumi sejak
puluhan hari yang lalu. Ia membiarkan hpnya tetap menyala.
Pagi harinya,
Layar
handphonemu tak kau matikan?
Siapa
ini?
“Gue dapet sms mengerikan
tadi malem.” Farka mencuri start untuk membuka pembicaraan pagi itu.
“Lo kan emang udah
mengerikan boy.” Harfa mengeluarkan earphone dan hp tidak barunya
dan meletakkan di meja makan.
“Sialan. Tapi seolah-olah
tuh dia ada dideket gue gal.”
“Mamah bawa apa buat gue?”
Harfa bukannya sengaja mengalihkan topik, tapi lebih enak jika dirinya dan
Farka mengobrol sambil mencomot sesuatu.
Dengan sekali rogohan, Farka
berhasil mengambil kotak Tupperware merah didalam tasnya. Ia
memberikannya pada Harfa. Sudah menjadi kebiasaan Mamahnya menaruhi tas Farka
dengan bekal seperti itu. Sangat tahu bahwa tidak hanya anaknya yang suka
mencomot sesuatu saat berincang-bincang, sahabanynya pun juga.
“Jadi lo seakan ada yang
nguntit gitu?” pertanyaan Harfa membuat Farka kembali antusias.
“Gue lebih merasa seperti
punya secret admirer, gal.” timpalnya sambil mencomot pisang goreng yang
sudah tertata rapi. Ada taburan keju dan coklat leleh diatasnya, Harfa yang
memiliki inisiatif untuk menamabahkannya.
“Enak ga sih?” Harfa juga
memasukkan separuh pisang goreng ke mulutnya.
“Enak. Serasa kayak artis,
Fa.”
“Maksud gue topping
yang gue tambahin diatasnya.” Harfa memasukkan lagi separuh pisang goreng ke dalam
mulutnya. Mengunyahnya dengan cepat lalu membuka layar handphonenya.
Farka tergelak, kemudian
melakukan hal yang sama. “Kocak banget wajah lo, bego.” Ia membalikkan layarnya
menghadap wajah Harfa sambil masih tertawa.
“Semaleman layar hplu ga dimatiin
ya?” Harfa bertanya sambil beranjak kemudian menuju kamarnya.
Farka mengerjap sedikit kaku
ditempat duduknya. Menatap dengan ekspresi muka datar yang tak siapapun
diruangan itu mengerti maksudnya. Hanya dirinya sendiri. Tak sempat
mengerjapkan mata, Harfa sudah kembali dengan memegang kardus berwarna merah
lalu meletakkannya dihadapan Farka.
“Kenapa lo boy.” Tak
sengaja Farka tersentak dengan ucapan Harfa.
“Hah? Ini apaan Fa?”
Friday, January 2nd
2015
Dia mecoba mendekatiku
dengan berbagai alasan yang bahkan tak pernah ku sangka caranya. Kalau aku
menjadikannya sebagai pelarian, apa dia mau menjadikan dirinya sebagai
pelabuhan?
February, 2nd
2016
Dia suka naik sepedah,
dan suka berkeringat di keningnya. Sakit?
February, 14th
2016
Bertemu di toko buku yang
sedikit pengunjung padahal hari ini adalah Valentine Day. Harusnya aku
mengabiskan hari kasih sayang ini dengan buku, tapi malah dengan seseorang. Dia
suka membaca buku filsafat. Dunia Sophie ada ditangannya hari ini.
February, 26th
2016
Dia suka membeli es teh
yang pernah menjadi sponsor project dramaku.
March. 10th
2015
Menghampiriku lagi di
toko buku lalu bertukar kontak. Permulaan.
April, 14th
2015
Pernah sakit, lalu tertatih
karena sebuah cerita. Dia ternyata sudah memiliki orang yang ia suka.
April, 16th
2015
Karenanya, aku jadi
sering menulis. Dia masih suka menceritakan orang yang dia suka. Aku diam saja.
June, 28th
2015
Dia menghampiriku ke
rumah.
July, 19th
2016
Kunjungan ketiganya.
Masih dengan keringat yang banyak. Jogging pertama.
July, 26th
2015
Memaku pintu supaya aku
bisa dengan gampang mengambil handuk kecil lalu mengusap kening didahinya. Oversweating
boy. Sweat, not sweet.
August, 24th 2015
Aku berlebihan memberikan
perhatian?
December, 15th
2015
Hpnya baru, dan btw aku
tahu siapa yang ia sukai. Hahaha.
January, 26th
2016
Aku sudah tahu, aku akan
menjadi seberarti ini untukmu.
February, 26th 2016
Wallpapermu aku ganti
dengan sengaja, supaya kamu bisa menatap mata bulan sabitku dengan leluasa.
Farka mengernyitkan dahi,
menyebabkan buliran bening menetes mengenai kertas yang sedang ia baca. Dia
masih belum menyiapkan segala sesuatunya, ia tak memasang tameng apa-apa atau tampang
cool yang seperti biasa. Kertas ini begitu mendadak menghampirinya.
“Harusnya lo puterin gue
lagu Back to December, bukan Breathe.” Bisik Harfa dibalik
telinga Farka. Membuat lelaki itu mengeluarkan lebih banyak lagi buliran bening
di dahinya. Jantungnya berdegup kencang, ia yakin Harfa mendengarnya. Apa yang
tidak Harfa ketahui tentang dirinya? Terbukti dari kertas yang ada ditangannya
bahwa Harfa benar-benar penggemar Conan Edogawa, tokoh serial komik yang
menjadi kesukaan Harfa dan otomatis menjadi kesukaanya juga semenjak pertemuan
pertamanya secara formal dengan Harfa ditoko buku dulu, dan momen itu baru saja
ia baca diatas kertas yang dipegangnya.
“I don’t dare to leave
you there, but I was smeeling my disgusting body, then I went to bath room.”
Harfa lag-lagi membuat desiran yang tak biasa. Farka hanya mengatupkan kedua
bibirnya. Seolah ia sedang disidang atas perlakuannya selama ini yang dalam
dakwaannya sendiri ia telah menguntit Harfa dan ketahuan telak oleh korban
untitannya itu.
“Rasanya seperti lo jadi
artis. Punya secret admirer!” Harfa duduk dengan anggun dikursi yang
berada diseberang Farka. Sambil tersenyum, ia memakan lagi pisang goreng yang
masih tersisa 3 potong diatas piring. Kejunya sudah tak serapi tadi.
“Mengungkap kasus kayak gini
bikin gue laper boy.” Ucapnya belepotan lalu menjilati jari-jarinya
dengan antusias. Maksud hatinya yang ingin mengambil lagi satu pisang goreng,
tiba-tiba terhenti karena sosok yang ada dihadapannya sudah tak mematung lagi. Proses
dia berdiri terasa bergitu cepat hingga Harfa tak sadar kalau sosok itu sudah
ada disampingnya.
Paniknya tak bisa ia
kendalikan, terlalu cepat untuk mengatur segala sesuatunya. Harfa tahu Farka
punya nyali besar, dan dia tidak bisa mengendalikannya semudah tadi. Pucat
pasi.
“Rumah ga akan pernah
membuatmu ketakutan, girl.” Bukannya menyerang, Farka memegang tangan
Harfa dan merengkuh pundak perempuan bertubuh lebih kecil darinya.
Tebakan Harfa salah, salah
total malah. Dikiranya Farka akan menyerangnya balik, mengungkap sebuah rahasia
atau apapun yang mampu membuatnya bergidik ketakutan dan mati sejenak seperti
yang ia lakukan pada Farka tadi. Harfa salah besar. Bukannya menakut-nakuti,
Farka malah merengkuhnya dengan tenang. Dibiarkannya nafas Harfa tersenggal
tepat didadanya. Jantungnya memang tak bisa Farka kontrol namun alasan itu tak
cukup kuat untuk melepaskan rengkuhannya terhadap Harfa.
“I am your home, not only
your harbour.” Farka mengeratkan lagi pelukannya pada Harfa. Dan saat itu
ia merasakan ada tangan mungil yang melingkar dipunggungnya. Kalimatnya
disambut, kemudian badannya dipeluk.
“Terimakasih sudah menjadi
detektif. Aku sudah tahu rasanya jadi penguntit.”
Lalu Harfa menengadahkan
kepalanya menatap mata Farka, diberanikannya untuk berbicara pada lelaki yang
masih memeluknya itu. “Terimakasih sudah menjadi penguntit, aku sudah tau rasanya
menjadi artis.”
March, 10th
2016
Iknow that God must loves
me cause He sent you to me.
-Harfa


Aku lebih suka kau putarkan lagu breath ketimbang back to december 😊😊
ReplyDeleteNgomong2 ak sudah memnuhi janjiku ... hahahaa