Dinamika Graphic Artist Editor
Entah udah playlist keberapa
WMP (Windows Media Player) di laptop memutar lagu yang berasal dari berbagai
bahasa. Mulai dari bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Indonesia, bahasa
Korea, ada juga bahasa Arab dan semuanya akan terputar seharian bahkan semalaman.
Mulut rasanya udah berbusa karena ikut-ikutan melantunkan lirik lagu yang
teredengar. Emang bener, jurus jitu supaya ga suntuk adalah nyanyian. Sedangkan
jurus jitu supaya ga ngantuk adalah makanan. Iya sama, sudah kali keberapa
dapur menjadi sebuah tempat pelarian, menghindar sejenak dari laptop guna untuk
menyegarkan mata dan pikiran.
Kalau kalian penasaran
sedang apa anak sastra Inggris sepertiku duduk berlama-lama didepan laptop?
Bukankah seharusnya aku memegang novel dan menyandingi puisi-puisi atau sonnet
Shakespeare? Menganalisa teks drama atau membaca teori stylistics atau
semacamnya?
Jawabannya cuma satu.
Karena aku adalah mahasiswi
sastra Inggris IAIN Surkarta.
Lalu apa hubungannya?
Pekerjaanku minggu ini
adalah menyelesaikan tugas makul “Creative Digital Writing”. Sudah
seperti sebuah takdir, aku (dan beberapa mahasiswa lainnya) terpilih menjadi Graphic
Artist Editor, berkubang dengan photoshop, mencoret-coret foto
teman-teman seangkatan yang terpilih jadi model, lalu mevisualisasikan hasilnya
ke dalam sebuah “visual novel”. Just for Your Information nih, jadi
visual novel itu semacam cerita visual yang digitalisasikan. Ga cuma ada teks
aja, tapi juga ada gambar, semacam komik but it is surely different! Bacanya
bukan lagi dari tumpukan kertas yang dicetak, melainkan dari gadget seperti
android atau ios yang sekarang lagi marak. If you want to know more,
you can find it on our website velis.xyz . Gamau bahas banyak-banyak karena
fokusnya bukan visual novelnya.
Nah, hal-hal diatas tidak
akan ditemui di jurusan apapun di kampus manapun kecuali jurusan di kampus yang
kusebutkan tadi. Jurusan dengan branding digital creative – branding paling
beda dari kampus lain yang mengharuskan mahasiswa dan dosennya mampu menghasilkan
karya kreatf yang digitalisasikan. Ya, salah satunya visual novel.
Kemudian, kedukaan para editor
graphic artist mencapai puncak klimaksnya ketika deadline yang sudah
tak bisa lagi dihitung dengan jari membuat kalang kabut orang-orang yang ada
didalamnya termasuk aku. Waktu yang mepet, keahlian editing yang tidak
terlalu memadai, karena biasanya kami anak sastra ngotak-ngatik puisi, kali ini
malah ngotak-ngatik aplikasi, photoshop lagi. Ironi, tapi ini bisa jadi
pengalaman pribadi yang me-nye-nang-kan-juga-me-mabukkan-dan-me-me-yang-lain.
As literature students, we
got many different experiences by being in this kind of job!
Bayangin aja, anak sastra
yang biasanya baca novel-novel tebel kayak semisal Wuthering Heightnya Emely
Bronte, Angel and Demonsnya Dan Brown, Harry Potternya J. K
Rowling dan mereka biasanya kalo ketiduran, jadiin novel buat bantalan tidur
atau minimal tidurnya sampingan sama novel. Beda banget sama kami yang
sama-sama anak Sastra Inggris tapi karena dapet job yang kayak
gitu, bantalannya bukan lagi novel melainkan laptop. Ga empuk sih, tapi
jadi sebuah nikmat perbedaan yang harus disyukuri.
Pengalaman kedua yang
berbeda terasa ketika pas malam minggu. Malam dimana sebagian anak muda
menghabiskan waktu dengan pasangan mereka, memegang tangan pasangannya dengan
mesra sambil bertatapan mata, ketawa-ketawa dan sebagainya. Buat anak Graphic
Artist Editor? Ga usah mimpi. Penghabisan waktu malam minggu kami
dengan memegang mouse hikmatly, bertatapan dengan layar laptop
yang tak pernah berkedip, mengumbar kreatifitas diatas layer photoshop. Sungguh
malam minggu yang luar biasa, bukan? Itung-itung jadi anak Graphic Artis
Editor bukan cuma mengasah kreatifitas, tapi juga menghindari dosa. Oke,
jomblo sampe halal!
Being in this kind of job
giving us an excuse to avoid “mandi-ness”. Kalo mandi itu verb,
ditambahi ness supaya jadi noun. Jadi jargon para graphic
artist editor adalah MANDI GA PENTING, YANG PENTING SELESAI. Karena emang
kami harus menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline yang udah ditentuin,
kalau ga selesai, namanya juga deadline, pasti kami mati kalo melanggar.
Jadi mending ga mandi kan daripada mati. Mandi bisa besok-besoknya.
Being graphic artist editor forces
us to be super sabar! Bukan super keju.
Pas masuk kegiatan editing,
fokus yang kami lakukan ga akan main-main, saking fokusnya kadang-kadang
lupa ngesave data editing secara berangsur dan ketika laptop tiba-tiba
ngehang dan aplikasi editing tiba-tiba force close, akhir
kata datanya ga sempet disave, alias hilang. Oke semua harus diulang
dari awal! Bisa dibayangin gimana gedegnya kami para editor yang ngerasain hal
seperti ini. Udah skill editing yang ga pinter-pinter amat, ditambah lagi kudu
mulai dari awal, ya bisa lah api keselnya buat ngebakar rumah satu komplek.
Ya bisa sih ngeluh,
tapi sama siapa? Kuncinya cuma sabar dan ngelus laptop. Dimantra-mantrai supaya
ga ngehang lagi.
Abis ngerasain lika-liku
yang kami amini sebagai sebuah pengalaman baru, ini waktunya buat bernapas
lega. Deadline yang rumornya mematikan udah lewat. Hasil kerja dari skill
editing yang pas-pasan udah dikumpulkan. Tinggal nunggu komentar dosen aja.
Gapapa dihujat, gapapa juga dapet pujian.
Aku pribadi sih suka dengan
tugas baru ini. Suka sama prosesnya. Suka juga sama pengalamannya.
Pegel-pegelnya udah ga kerasa, ketutup sama –DEADLINE-
selanjutnya.
Tugas buat anak Sastra
Inggris semester lima emang ga ada matinya.
Keep fighting, keep
surviving, semester lima emang klimaksnya tugas kuliah. Slow.
Salam semester lima,
Aiq Edogawa~

Comments
Post a Comment