LAB IAIN Surakarta Beralih Fungsi?

IAIN Surakarta merupakan sebuah kampus yang tidak pernah surut dari sebuah keunikan. Mulai dari pemandangan yang ada diluar kampusnya hingga pemandangan yang ada didalamnya mengandung unsur yang unik. Jika kemarin ditemukan hal unik diluar kampus seperti keseragaman batik yang dipakai oleh pedagang dipinggir jalan rayanya, hal unik kali ini datang dari dalam salah satu gedung kuliah kampus. Ada salah satu gedung dimana gedung tersebut digunakan sebagai tempat perkuliahan. Laboratorium IAIN Surakarta namanya, mahasiswa kampus IAIN biasa memendekkan namanya menjadi ‘lab’.  

Laboratorium IAIN Surakarta memang memiliki nilai jual yang tinggi dalam hal ke-strategisan tempat. Banyak dari mahasiswa memasuki gedung tersebut untuk melakukan sebuah perkuliahan atau sekedar kongkow dengan teman-temannya mengerjakan tugas negara atau tugas kuliah. Lab IAIN Surakarta tak pernah lekang oleh penghuni, selalu saja ada mahasiswa yang datang. Disetiap sudutnya pasti saja ditemukan mahasiswa disana, entah bergerombol duduk melingkar membahas banyak hal, atau memegang gadget sambil duduk berjajar, atau bahkan ada yang berkomat-kamit menghapalkan materi kuliah karena malamnya tak sempat belajar.

Keadaan yang seperti ini terlihat sangat sudah biasa bahkan saking biasanya banyak dari mahasiswa bersikap biasa-biasa saja. Tapi ternyata tidak semua mahasiswa berpikir biasa, dari keadaan lab yang seperti ini, ada segelintir dari mereka yang menemukan sebuah prospek bagus. Apa itu?

Lobby IAIN Surakarta sekarang sudah beralih fungsi menjadi stand kedai makanan. Ini sangat ironi sekaligus unik, mengingat gedung yang harusnya difungsikan menjadi tempat perkuliahan lama-kelamaan menjadi tempat untuk berjualan. Uniknya adalah, kita tidak tahu siapa yang berjualan disana, karena memang yang ada hanyalah barang jualannya saja tanpa ada penjualnya. Unik bukan?

Awalnya, ide jualan tanpa ada penjualnya ini muncul ketika penulis berada pada semester 4, sekarang sudah semester 5, jadi kurang lebih setengah tahunanlah  fenomena ini muncul. Ini terbilang unik mengingat bahwa barang jualan yang harusnya ada penjual kali ini hanya ada barang jualannya saja. Selain karena penjualnya mungkin dari kalangan mahasiswa aktif yang sibuk mengikuti perkuliahan di kelas, konsep jualan ini juga sebagai ajang untuk melatih diri para pembeli untuk bersikap jujur saat membeli. Tidak ada yang tahu apakah pembeli membayar atau tidak karena memang tidak ada penjaga atau penjualnya disitu, bayar atau ngga sih tergantung pada tingkat kejujuran setiap pembeli. Itulah kenapa jualan ini diberi nama sebagai warung jujur.

Awalnya, hal ini sangat diapresiasi banyak mahasiswa, jualan pun selalu habis karena yang dijual disana awalnya hanyalah donat dan air mineral. Jika dilihat dari uang yang terkumpul di toples yang bersanding dengan donat dan air mineralnya, selalu terisi uang dan jumlahnya sebanding dengan makanan yang terjual. Wow! Ternyata mahasiswa/i IAIN Surakarta punya sifat yang jujur bahkan dalam hal kecil sekalipun seperti membayar saat membeli meski tidak ada yang mengawasi.  

Namun petakanya, warung jujur ini seperti sebuah Hydra yang dengan cepat membentuk tunas-tunas baru. Banyak sekali anakan-anakan yang timbul dari warung ini hingga yang awalnya diapresiasi oleh banyak mahasiswa, sekarang malah menuai kritikan. Berjejernya dagangan-dagangan tak berpenjual ini diatas meja resepsionis lobby lab IAIN Surakarta benar-benar mengganggu pemandangan, nampak jelas sekali bahwa fungsi lobby lab sudah beralih fungsi menjadi tempat untuk berjualan.

Bisa dilihat pada gambar.








Untuk anak sastra yang mengedepankan estetika, ini sangat mengganggu. Awalnya sih emang bagus untuk melatih kejujuran, tapi kalo terlalu banyak yang menaruh dagangan tanpa penjual ini, ga bagus juga. Selain merusak pemandangan bisa juga merusak konsentrasi belajar mahasiswa.

Iya ga sih? Yang awalnya mau kuliah, malah terhenti untuk beli jajanan dulu. Yang awalnya ga pengen bawa makanan ke dalam kelas, karena jajanan yang dibeli tadi belum sempat dimakan, malah dimakan didalam kelas dan sampahnya, jangan harap dibuang ke tempat sampah karena didalam kelas ga ada  tempat sampah. Jelaslah plastik bekas tempat makanan bakalan dibuang dibawah kursi kuliah. Alhasil, ruangan kelas lab jadi penuh sampah, deh.

Tuhkan, bukan hanya mengganggu pemandangan lobby lab, warung jujur ini juga merusak kebersihan kelas lab. Hemat penulis, sebaiknya sih tiap orang tidak dzolim terhadap lingkungan sekitar. Sesuaikan semua tempat berdasarkan fungsinya, lab IAIN kan tempat perkuliahan, jadi ya fungsikan sebagai tempat kuliah, bukan tempat untuk mencari nafkah. Gitu aja sih.

Jadi penjual zaman sekarang ini emang kudu cerdas, tapi jadi mahasiswa yang cerdas jauh lebih penting!

Aiq Edogawa 

Comments

Popular Posts