Sesederhana Namanya, Serumit Pengertiannya: Rindu
Sudah
hari keberapa aku memendam rindu, menutup hati dengan lambat yang berujung pada
lidah yang kelu dan bibir yang terkatup bisu.
Coretan pertama yang ku peruntukkan kepadamu berakhir karena aku sudah
tak mampu menampung rindu yang menusuk secara perlahan kedalam pangkal hatiku.
Rasanya
aku ingin menyeruak keluar, memeluk erat dirimu dan berteriak bahwa aku selama
ini menolak sadar. Kau jangankan hadir, minimalpun kau sudah tak memberiku
kabar. Pasti akan kutanya, aku siapa? Aku sudah bukan siapa – siapa.
Putusnya kita memang lain dari biasanya. Doa balikan dari orang – orang yang mendengar tak sederas sedia kala. Ya untuk apa aku bercerita, jika kau tak urung untuk kembali seperti semula? Aku lebih baik bungkam daripada harus membeberkan luka lebam bekas kau tinggal sendirian.
Kau
tak terlihat tapi aku merindu. Pada setiap momen yang usai dan sudah berlalu. Aku
tak nampak didepanmu tapi pikiranku menuju pada sosokmu yang pilu.
Katakan,
aku harus bagaimana jika tanpa kamu?
Hubungan
ini memang tidak boleh, akan tetapi…. Ya dia tetap saja tidak diperbolehkan.
Rindu
harusnya tak ada, jadi sekeras nadi aku pun harus berusaha menghilangkan
semuanya.
Cinta,
yang terlalu dini kubicarakan, harus segera aku lenyapkan.
Aku
sudah terlanjur mengambil hatiku kembali, dan kau sudah memutuskan untuk pergi.
Jika bukan aku sendiri, siapa lagi yang akan menjaga sebongkah hati ini?
Dari aku,
Aiq Edogawa~

Comments
Post a Comment