Penyembuh Luka
Hari kedua.
Aku mulai merasakan bahwa aku gila. Bukan lagi perasaanku yang menggila. Tapi akal sehatku sudah menggila. Ia kehilangan fungsi sehatnya.
Pada irisan keberapa tanganku mulai merasakan perih. Ngilu luar biasa.
Aku mencoba untuk bunuh diri. Tapi aku masih meragu. Aku takut akan kesakitan yang diciptakan oleh pisau tak tajam yang ada didalam kamar kosku.
Kali ini aku sendirian. Tak ada siapapun yang menemaniku malam ini.
Dini hari di hari Minggu. Hari yang begitu malang untuk memulai sebuah awal yang baru.
Sekarang aku sudah tak menangis menderu lagi. Aku sudahi kesakitanku didalam hati dan kugantikan dengan ngilunya pergelangan tangan kiriku karena kuiris tadi.
Sesayat lagi, dia akan mengeluarkan darah begitu banyak dan aku akan masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan begitu hebat. Tapi malaikat selalu menjaga dan membisikkan kalimat bagus untukku. Aku harus bertahan. Meski dalam kesakitan, aku harus menghargai kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Aku bukannya bodoh, aku hanya terlalu cinta. Aku bukannya dungu, aku hanya terlalu terlena. Aku bukannya keliru, aku hanya tak kuat menahan rindu.
Dia tak akan pernah peduli pada keadaanku sekarang ini. Bahkan menolehpun dia tak akan mau. Siapa yang peduli, aku pun tak akan peduli. Pada diriku sendiri.
Setelah semua yang telah aku lakukan, kata terror yang dia sematkan pada diriku yang naif ini, semuanya menunjukan bahwa dia sangat membenciku. Begitu sangat membenciku.
Aku tak akan pernah peduli akan kebenciannya terhadapku. Aku akan terus bertahan, sebelum waktu berkata waktunya pulang, akan terus aku perjuangkan.
Aku hanya ingin memberinya kabar bahwa seseorang akan sangat bahagia jika ia tahu bahwa ia sedang diperjuangkan. Meski bukan aku yang bahagia, setidaknya dia yang akan bahagia. Menjadi posisiku yang dulu pernah aku tempati. Aku sadar, dia pernah juga berjuang untukku. Dia juga pernah berusaha membahagiakanku, dengan caranya sendiri. Pun saat aku sedikit tak menyadari, pernah ada sebuah perjuangan yang telah ia beri.
Meski hanya dianggap sebuah terror belaka, aku akan terus berusaha. Meski aku tak percaya aku teranggap seperti seorang teroris oleh seorang yang aku cinta, aku tak akan putus asa. Aku akan terus berjuang, hingga suatu saat nanti, ia akan melukiskan rona bahagia karena aku telah memperjuangkannya dan menjadikannya salah satu orang yang berharga, dalam hidupku. Dalam hidup seorang yang namanya tak akan pernah terbesit dalam daftar orang yang dia benci sekalipun.
Semoga saja dia bisa bernafas lega karena perlahan aku sudah melepaskan pelukanku terhadapnya. Semoga ia dapat menjangkau pandangan tepat didepan sana, karena aku perlahan beringsut mulai memalingkan muka yang tadinya berdiri tegak dihadapannya.
Dan disini, aku akan mengurai kisah bak seorang putri. Merangkai dongeng cinta yang dapat membuat pembacanya mengeratkan gigi, tanda bahwa mereka merasa iri. Meski sang pangeran pujaan hati tak akan pernah datang menjemputku sebagai putri, aku tak akan berkecil hati. Akan terus kuurai cerita, akan terus kuteteskan air mata pada setiap bagiannya, agar ia datang tidak untuk melengkapi cinta, namun ia datang untuk menyembuhkan luka.
Dari Penulis Favoritmu,
Aiq Edogawa
Aku mulai merasakan bahwa aku gila. Bukan lagi perasaanku yang menggila. Tapi akal sehatku sudah menggila. Ia kehilangan fungsi sehatnya.
Pada irisan keberapa tanganku mulai merasakan perih. Ngilu luar biasa.
Aku mencoba untuk bunuh diri. Tapi aku masih meragu. Aku takut akan kesakitan yang diciptakan oleh pisau tak tajam yang ada didalam kamar kosku.
Kali ini aku sendirian. Tak ada siapapun yang menemaniku malam ini.
Dini hari di hari Minggu. Hari yang begitu malang untuk memulai sebuah awal yang baru.
Sekarang aku sudah tak menangis menderu lagi. Aku sudahi kesakitanku didalam hati dan kugantikan dengan ngilunya pergelangan tangan kiriku karena kuiris tadi.
Sesayat lagi, dia akan mengeluarkan darah begitu banyak dan aku akan masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan begitu hebat. Tapi malaikat selalu menjaga dan membisikkan kalimat bagus untukku. Aku harus bertahan. Meski dalam kesakitan, aku harus menghargai kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Aku bukannya bodoh, aku hanya terlalu cinta. Aku bukannya dungu, aku hanya terlalu terlena. Aku bukannya keliru, aku hanya tak kuat menahan rindu.
Dia tak akan pernah peduli pada keadaanku sekarang ini. Bahkan menolehpun dia tak akan mau. Siapa yang peduli, aku pun tak akan peduli. Pada diriku sendiri.
Setelah semua yang telah aku lakukan, kata terror yang dia sematkan pada diriku yang naif ini, semuanya menunjukan bahwa dia sangat membenciku. Begitu sangat membenciku.
Aku tak akan pernah peduli akan kebenciannya terhadapku. Aku akan terus bertahan, sebelum waktu berkata waktunya pulang, akan terus aku perjuangkan.
Aku hanya ingin memberinya kabar bahwa seseorang akan sangat bahagia jika ia tahu bahwa ia sedang diperjuangkan. Meski bukan aku yang bahagia, setidaknya dia yang akan bahagia. Menjadi posisiku yang dulu pernah aku tempati. Aku sadar, dia pernah juga berjuang untukku. Dia juga pernah berusaha membahagiakanku, dengan caranya sendiri. Pun saat aku sedikit tak menyadari, pernah ada sebuah perjuangan yang telah ia beri.
Meski hanya dianggap sebuah terror belaka, aku akan terus berusaha. Meski aku tak percaya aku teranggap seperti seorang teroris oleh seorang yang aku cinta, aku tak akan putus asa. Aku akan terus berjuang, hingga suatu saat nanti, ia akan melukiskan rona bahagia karena aku telah memperjuangkannya dan menjadikannya salah satu orang yang berharga, dalam hidupku. Dalam hidup seorang yang namanya tak akan pernah terbesit dalam daftar orang yang dia benci sekalipun.
Semoga saja dia bisa bernafas lega karena perlahan aku sudah melepaskan pelukanku terhadapnya. Semoga ia dapat menjangkau pandangan tepat didepan sana, karena aku perlahan beringsut mulai memalingkan muka yang tadinya berdiri tegak dihadapannya.
Dan disini, aku akan mengurai kisah bak seorang putri. Merangkai dongeng cinta yang dapat membuat pembacanya mengeratkan gigi, tanda bahwa mereka merasa iri. Meski sang pangeran pujaan hati tak akan pernah datang menjemputku sebagai putri, aku tak akan berkecil hati. Akan terus kuurai cerita, akan terus kuteteskan air mata pada setiap bagiannya, agar ia datang tidak untuk melengkapi cinta, namun ia datang untuk menyembuhkan luka.
Dari Penulis Favoritmu,
Aiq Edogawa

Comments
Post a Comment