Kalau Punya Pasangan Baik
Memiliki pasangan dengan genre orang baik merupakan salah satu hal baik yang pernah ada. Bukan karena orang tersebut bisa dimanfaatkan atau sebaliknya, tapi karena memang semua orang di dunia ini bahkan yang bukan manusia pun pasti nyaman jika ada yang baik terhadapnya.
Namun, bukan karena menjadi salah satu hal baik yang pernah ada, memiliki pasangan dengan karakter yang baik lantas tidak memiliki kekurangan atau lika liku didalamnya. Ada beberapa hal yang membuat tidak nyaman jika memiliki pasangan dengan genre seperti itu.
Mungkin pembaca yang budiman sekarang memiliki pasangan yang bergenre seperti yang akan dituliskan disini, bersabarlah dan bertawakkalalah. Semua akan bahagia pada akhirnya, jika belum bahagia, berarti belum berakhir.
Jadi setiap orang memiliki karakternya masing-masing. Jika kau adalah seorang dengan temperamen tinggi dengan satu senggolan dapat membuatmu membacok segala sesuatu yang ada di hadapanmu, tentulah pasanganmu merupakan ia yang dibacok olehmu. I mean, ia akan selalu menjadi korban dari tingginya temperamenmu itu. Ini bukan sebuah bualan, nyatanya memang banyak yang seperti itu. Jikalau sama-sama bertemperamen tinggi, yaa hancurlah dunia dengan keberadaan pasangan seperti ini.
Sejatinya memang semua diciptakan berpasang - pasangan. Marah dengan sabar, tinggi dengan rendah, tampan dengan cantik (lalu yang jelek ga punya pasangan? Sadarlah, tidak ada ciptaan Tuhan yang jelek. Bahkan semut sekalipun memiliki sebuah ketampanan atau kecantikan. Tergantung jenis kelaminnya.), laki - laki dengan perempuan, iya dengan tidak, dan yang terakhir aku dengan kamu. Itulah pasangan, memang diharuskan berbeda supaya semuanya ada. Hematnya, supaya saling melengkapi.
Tapi.... Pasangan yang terlalu baik juga membikin tak nyaman. Ketika ia memberikan sebuah kebaikan kepada orang lain selain kepadamu, rasa cemburu, marah, curiga, takut, semuanya bergulat menjadi satu dalam pikiranmu. Itu hal yang wajar. Itulah hakikat. Memiliki. Kata yang digunakan untuk mengikat. Tak boleh ada orang lain yang mencecap sedikit kebaikan selain kamu yang dianggap denganmu dia memiliki hubungan yang erat.
Padahal ia yang baik hati tak akan pernah tega untuk tidak memberikan kebaikannya pada orang lain, bahkan meskipun ia tak memiliki hubungan apa - apa. Atau sekedar hubungan junior pada seniornya, teman pada sesamanya, bos kepada partnernya, penjual kepada pelanggannya, dan seterusnya.
Tapi disini, jangan hanya berpikir dari sisi yang memberi kebaikan saja. Kamu yang merasa memilikinya juga memiliki pandangan. Yang bahkan tak semua orang paham dengan pandanganmu. Terkadang perasaan cemburu timbul karena kebaikan yang harusnya diberikan kepadamu saja harus terbagi dengan orang lain. Kadang harus kesal sepanjang perjalanan saat perhatian dan rasa empati yang harusnya diberikan kepadamu saja harus dibagi dengan orang lain. Seperti yang sudah dituliskan, ya itulah hakikat. Itulah rasa memiliki. Jikalau kau tak cemburu saat pasanganmu berbagi dengan orang lain, kupikir kau tak normal.
Namun apakah kamu akan terus seperti itu? Akankah kamu melarangnya berhenti berbuat kebaikan dan membuatnya berhenti berbagi dengan orang lain? Akankah kau akan mengutuk mereka yang diberi kebaikan oleh pasanganmu? Bisa - bisa saja kau melakukan itu semua, namun jika kau melakukannya, dengan sadar kau telah memberhentikan ia untuk bahagia. Seperti dikutip dalam sebuah quote dan buku yang telah teruji, berbagi dengan orang lain dapat meningkatkan prosentase kebahagiaan seseorang. Dan kau akan memberhentikannya untuk berbagi? Kau sudah membaca quote dari buku yang teruji, harusnya kau sadar atas apa akibat yang akan kau lakukan dan dampaknya suatu hari nanti.
Lalu apa yang harus kau lakukan?
Seperti yang sudah dituliskan. Bersabarlah dan bertawakkallah. Pertama bersabarlah pada cemburu dan amarah, akankah kau mau binasa pada dua perasaan menjijikkan dan menyakitkan itu? Pikirkanlah.
Kedua, bertawakallah dengan meredam semua itu sebisa mungkin. Bukankah api dapat padam dengan air jika ia tidak disiram melainkan diredam?
Kau harus dewasa. Padanya kau harus percaya. Dia yang mencintaimu dengan hangat, akan selalu tau kepada siapa hatinya harus terikat.
Dia yang selalu mencintaimu dengan doa, berapapun ia memiliki orang baru, ia akan selalu tau dengan siapa ia harus maju.
Dan pembaca yang budiman, berbahagialah dengan pasanganmu yang baik hari ini. Cintailah ia dengan lebih esok hari. Karena pernahkah terlintas dalam sanubari, untuk orang lain saja ia selalu ada, apalagi untuk kamu yang terlibat cinta dalam hidupnya?
Saya sang penulis untuk diri sendiri, mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam.
Namun, bukan karena menjadi salah satu hal baik yang pernah ada, memiliki pasangan dengan karakter yang baik lantas tidak memiliki kekurangan atau lika liku didalamnya. Ada beberapa hal yang membuat tidak nyaman jika memiliki pasangan dengan genre seperti itu.
Mungkin pembaca yang budiman sekarang memiliki pasangan yang bergenre seperti yang akan dituliskan disini, bersabarlah dan bertawakkalalah. Semua akan bahagia pada akhirnya, jika belum bahagia, berarti belum berakhir.
Jadi setiap orang memiliki karakternya masing-masing. Jika kau adalah seorang dengan temperamen tinggi dengan satu senggolan dapat membuatmu membacok segala sesuatu yang ada di hadapanmu, tentulah pasanganmu merupakan ia yang dibacok olehmu. I mean, ia akan selalu menjadi korban dari tingginya temperamenmu itu. Ini bukan sebuah bualan, nyatanya memang banyak yang seperti itu. Jikalau sama-sama bertemperamen tinggi, yaa hancurlah dunia dengan keberadaan pasangan seperti ini.
Sejatinya memang semua diciptakan berpasang - pasangan. Marah dengan sabar, tinggi dengan rendah, tampan dengan cantik (lalu yang jelek ga punya pasangan? Sadarlah, tidak ada ciptaan Tuhan yang jelek. Bahkan semut sekalipun memiliki sebuah ketampanan atau kecantikan. Tergantung jenis kelaminnya.), laki - laki dengan perempuan, iya dengan tidak, dan yang terakhir aku dengan kamu. Itulah pasangan, memang diharuskan berbeda supaya semuanya ada. Hematnya, supaya saling melengkapi.
Tapi.... Pasangan yang terlalu baik juga membikin tak nyaman. Ketika ia memberikan sebuah kebaikan kepada orang lain selain kepadamu, rasa cemburu, marah, curiga, takut, semuanya bergulat menjadi satu dalam pikiranmu. Itu hal yang wajar. Itulah hakikat. Memiliki. Kata yang digunakan untuk mengikat. Tak boleh ada orang lain yang mencecap sedikit kebaikan selain kamu yang dianggap denganmu dia memiliki hubungan yang erat.
Padahal ia yang baik hati tak akan pernah tega untuk tidak memberikan kebaikannya pada orang lain, bahkan meskipun ia tak memiliki hubungan apa - apa. Atau sekedar hubungan junior pada seniornya, teman pada sesamanya, bos kepada partnernya, penjual kepada pelanggannya, dan seterusnya.
Tapi disini, jangan hanya berpikir dari sisi yang memberi kebaikan saja. Kamu yang merasa memilikinya juga memiliki pandangan. Yang bahkan tak semua orang paham dengan pandanganmu. Terkadang perasaan cemburu timbul karena kebaikan yang harusnya diberikan kepadamu saja harus terbagi dengan orang lain. Kadang harus kesal sepanjang perjalanan saat perhatian dan rasa empati yang harusnya diberikan kepadamu saja harus dibagi dengan orang lain. Seperti yang sudah dituliskan, ya itulah hakikat. Itulah rasa memiliki. Jikalau kau tak cemburu saat pasanganmu berbagi dengan orang lain, kupikir kau tak normal.
Namun apakah kamu akan terus seperti itu? Akankah kamu melarangnya berhenti berbuat kebaikan dan membuatnya berhenti berbagi dengan orang lain? Akankah kau akan mengutuk mereka yang diberi kebaikan oleh pasanganmu? Bisa - bisa saja kau melakukan itu semua, namun jika kau melakukannya, dengan sadar kau telah memberhentikan ia untuk bahagia. Seperti dikutip dalam sebuah quote dan buku yang telah teruji, berbagi dengan orang lain dapat meningkatkan prosentase kebahagiaan seseorang. Dan kau akan memberhentikannya untuk berbagi? Kau sudah membaca quote dari buku yang teruji, harusnya kau sadar atas apa akibat yang akan kau lakukan dan dampaknya suatu hari nanti.
Lalu apa yang harus kau lakukan?
Seperti yang sudah dituliskan. Bersabarlah dan bertawakkallah. Pertama bersabarlah pada cemburu dan amarah, akankah kau mau binasa pada dua perasaan menjijikkan dan menyakitkan itu? Pikirkanlah.
Kedua, bertawakallah dengan meredam semua itu sebisa mungkin. Bukankah api dapat padam dengan air jika ia tidak disiram melainkan diredam?
Kau harus dewasa. Padanya kau harus percaya. Dia yang mencintaimu dengan hangat, akan selalu tau kepada siapa hatinya harus terikat.
Dia yang selalu mencintaimu dengan doa, berapapun ia memiliki orang baru, ia akan selalu tau dengan siapa ia harus maju.
Dan pembaca yang budiman, berbahagialah dengan pasanganmu yang baik hari ini. Cintailah ia dengan lebih esok hari. Karena pernahkah terlintas dalam sanubari, untuk orang lain saja ia selalu ada, apalagi untuk kamu yang terlibat cinta dalam hidupnya?
Saya sang penulis untuk diri sendiri, mohon maaf lahir dan batin.
Wassalam.

Dulu sih. Dulu bangett. Pernah punya tapi putus. Dan bikin sedih. Alhamdulillah sekarang di vanti yg lebih baik. Colek istriku hihi
ReplyDeleteAlhamdulillah vang ternyata udah nikah :v
DeleteSamawa yaaa ahahaha
MENARIK tulisannya, salam kenal ya, saya juga sempat menulis terkait hubungan Menikahlah sebelum mapan
ReplyDeleteHehe salam kenal juga. Selalu kasih komen dan masukan ya kak. Masih baru belajar
Delete