Secarik Surat
Ada yang sedang bertengkar diujung lapangan. Tempat dimana aku dan kamu pernah duduk bersama menyenandungkan suka bersama lagu hingga tertawa. Tangis terdengar seperti suara wanita. Memohon sekejap untuk didengar dan di tenangkan hatinya.
Dan aku... Duduk disini sendiri menatap mereka penuh rasa iri. Dalam hati ku terus berbisik, mengapa harus ada luka disaat raga sudah bersama? Kenapa pertemuan yang untuk diriku penuh arti, malah mereka nodai dengan teriak dan gemuruh kesal dalam hati?
Apa mereka tak menghargai kebersamaan? Sedang aku disini sangat ingin memutuskan.. Untuk berjumpa, bertatap muka, berbagi tawa, menghabiskan waktu bersama-sama.
Kuharap kamu ada disampingku sekarang. Menampakkan sisi romantis kita pada mereka yang ada diseberang. Supaya mereka paham, bukan saling membantah yang dapat menyelesaikan masalah.
Namun, kau tahu? Aku hanya bisa mengeratkan gigi tanpa obsesi. Menatap nanar pada diriku sendiri yang tak pernah lekang mendoakan kita berdua dalam hati. Sudah lembaran keberapa bukuku dibalik, namamu selalu basah pada tumpahan tinta yang terbalik.
PadaNya aku sampaikan, hati ini masih saja tak bisa merasa baikan. Walau waktu sudah mencoba untuk memulihkan, tetap saja yang kubutuhkan bukan waktu atau jarak, tapi kamu yang namanya selalu aku telungkupkan pada doa berbalut isak.
Sempatkanlah kamu untuk merindukanku sore ini. Bebanku masih saja tak mampu ku tuangkan kecuali dengan sebuah pertemuan.
Dan aku... Duduk disini sendiri menatap mereka penuh rasa iri. Dalam hati ku terus berbisik, mengapa harus ada luka disaat raga sudah bersama? Kenapa pertemuan yang untuk diriku penuh arti, malah mereka nodai dengan teriak dan gemuruh kesal dalam hati?
Apa mereka tak menghargai kebersamaan? Sedang aku disini sangat ingin memutuskan.. Untuk berjumpa, bertatap muka, berbagi tawa, menghabiskan waktu bersama-sama.
Kuharap kamu ada disampingku sekarang. Menampakkan sisi romantis kita pada mereka yang ada diseberang. Supaya mereka paham, bukan saling membantah yang dapat menyelesaikan masalah.
Namun, kau tahu? Aku hanya bisa mengeratkan gigi tanpa obsesi. Menatap nanar pada diriku sendiri yang tak pernah lekang mendoakan kita berdua dalam hati. Sudah lembaran keberapa bukuku dibalik, namamu selalu basah pada tumpahan tinta yang terbalik.
PadaNya aku sampaikan, hati ini masih saja tak bisa merasa baikan. Walau waktu sudah mencoba untuk memulihkan, tetap saja yang kubutuhkan bukan waktu atau jarak, tapi kamu yang namanya selalu aku telungkupkan pada doa berbalut isak.
Sempatkanlah kamu untuk merindukanku sore ini. Bebanku masih saja tak mampu ku tuangkan kecuali dengan sebuah pertemuan.

Ahhh... Jadi baper 😣😣😣
ReplyDeleteBaper mah gamasalah asal ada yang mau dibaperin wkwk
DeleteAhhh... Jadi baper 😣😣😣
ReplyDelete