JAMBORE SAR Se-Solo Raya 2016

Jambore SAR Se-Solo Raya

Telah diadakan JAMBORE SAR SOLO RAYA 2016 di kantor BASARNAS Surakarta tanggal 30-31 Januari 2016. Dan gw? Salah satu peserta acara keren tersebut! Gw ga akan cerita detil dari kegiatan itu. Yang jelas, keseruan dan kekeluargaan gw dapat dan gw pelajari di acara ini.

Menjadi anggota mendadak dari salah satu regu, itulah status gw hari itu. Awalnya gw ga terlalu asik dengan status yang gw buat sendiri, tapi namanya juga gw, gw butuh status, gw gabisa digantungin. Akhirnya kan gw jadi jadian bikin status status sendiri untuk diri gw sendiri juga. Status itu membikin gw males untuk melakukan apa-apa, dan kerjaan gw cuma mendekam di mess yang udah disediakan panitia. Sebenernya gw bukan males, tapi gw merasa asing sehingga membikin gw males melakukan apapun. Dan ujung-ujungnya males juga kan. Hm.
Didalem kamar mess, gw main piano tiles dua sementara rekan-rekan gw pada pergi ke Waduk Cengklik untuk melakukan water rescue. Bukan karena gw males hari itu (alibi lagi), cuman gw bukan petugas untuk water rescue, melainkan gw petugas pendengar workshop SAR. Dan kalian musti tau kalau workshop akan diadakan siang nanti jam satu. Saat gw stay di mess untuk main piano tiles, latar waktunya adalah saat pagi hari kira-kira-kira jam 9 lah. Kebayang ga sih lo kudu nunggu empat jam lagi sebelum workshop dimulai!

Dan penantian berakhir ketika tiba-tiba pintu kamar mess kebuka dan muncul sosok temen gw di balik daun pintu. Mukanya kucel tapi ngga banget sih. Dia masuk kemudian mendekat ke gw, meraih lengan gw, (tapi ini ga beneran, biar dramatis aja) dan bertanya basa basi.
Entah berapa lama gw dengan ga bosan mendengar denting piano (kala jemari menari, nada beranjak pelan di kesunyian malam saat datang rintik hujan) di hp gw, dan mata gw mulai terlelap. Gw berpesan pada temen gw "Wake me up when September ends" tapi lama banget kalau dipikir-pikir ya. Lalu gw tidur. Pulas. Tanpa batas.
Dan gw kaget, ternyata suara gedoran pintu yang lumayan keras bukanlah sebuah mimpi belaka. Hal itu nyata, dan membikin gw bangun dengan mata yang ga bisa melek dengan sempurna. Wajah pertama yang gw lihat di balik daun pintu adalah wajah komandan gw yang gw denger dari suaranya bilang "Ayo kumpul workshop!". Gw kelabakan dan gw langsung menegakkan diri nyari kerudung di sana - sini dan keluar mess dengan perasaan ga peduli (ke muka).

Bagian gw adalah workshop Trauma Healing. Dan ketika gw sampai pada lokasi workshop, beeeuh udah banyak yang pada kumpul. Tapi acaranya belum mulai. Gw mengelus dada tanda tidak kecewa.
Materi Trauma Healing bermanfaat banget untuk gw. At least, gw merasakan untuk diri gw sendiri saat ini, meski sebenernya trauma healing ini untuk para korban bencana. Pemateri trauma healing adalah Mrs. Juliani Prastiningrum dari psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Yuhu, anak psikologi UMS pasti pada kenal.
Workshop berakhir dan gw kembali ke mess. Untuk mandi. Cuci muka cuci otak dan cuci perasaan. Eaa~
Dan time for refreshing!
Taking some pictures pada view yang bagus di salah satu sudut kantor BASARNAS Surakarta.
Kemudian, sore itu bukan menjadi sore yang syahdu meski sedang berada pada ujung bulan di hari sabtu. Ketika gw dan temen gw melewati pos PMI Wonogiri, gila!!! Gw dan temen gw jadi salah satu korban kegilaan mereka. Masuk pada tayangan acara ngaco mereka yang bikin ketawa sampe terbahak - bahak. Serius! Gara-gara gilanya mereka, kami (gw dan temen gw) ga beranjak dari pos mereka malah ikutan gila bareng mereka. Inget loh ya readers, gila dalam diksi ini adalah gila yang positif, bukan negatif. (Mmm, kalo.... Jailin orang dengan cara nyegat jalan mereka kemudian ngajak mereka lambai-lambai ke kamera, itu gila positif ga sih?)
Oke go on.
Dari situ kami kenalan dan..... Temen gw nambah lagi dong.

Sore berlalu, adzan maghrib sudah menggema ke seluruh penjuru, tawa bahak yang mengisi sore itu tergantikan dengan senja penuh khusyuk dalam balut gerak yang membisu.

Dan ketika keesokannya di tanggal 31 Januari, kami harus berjuang lagi!

Challenge hari itu adalah hart. Kebayang kan kerennya pemuda-pemudi yang naik hart membawa pertolongan bagi para korban yang membutuhkan. Dengan penuh ketangkasan, mereka naik wall membawa korban yang sudah pasrah akan hidupnya. (meski korbannya korban boongan). Gw menikmati pemandangan keren itu sambil sesekali taking some pictures. Untuk dokumentasi.
Jam berlalu, panas mulai nampak di langit biru, dan gw dengan ga sengaja dapet bunga beserta potnya. Karena bunga itulah, gw jadi deket dengan bapak - bapak SAR entah bagian apa gw ga ngarti. Secara otodidak diajarin cara ngerangkai bunga dan, ulalaaa, seru banget lah!

Makan siang tiba. Dan gw bangga banget makan nasi bungkus siang itu. Ada alasannya.
Nasi bungkus yang gw makan siang itu ada campur tangan gw dalam beberapa bagiannya.
Iya.
Jadi setelah belajar merangkai bunga, salah satu bapak SAR menahan gw untuk ga pergi (sementara temen gw yg tadi bareng sama gw udah pergi duluan untuk challenge tali-temali). Gw diminta untuk bantuin bungkusin nasi. Jelaslah gw mau dan gw seneng. Karena gw ada pekerjaan. Alhamdulillah.

Lalu...
Gw udah di mess lagi bersama dua temen gw yang tadi juga bantuin bungkus nasi pas udah sampai tengah jalan acara pembungkusan. Kedua temen gw ini niat banget mandi. Mereka udah pada selesai mandi saat pintu berbunyi karena ketukan dan terdengar suara sayup yang menginstruksikan supaya kami lekas berkemas dengan segera. Dan petaka, gw belum mandi. Dan ga masalah, sudah biasa.

Keluar mess sebagai kenang-kenangan, bapak penjaga pintu mess mengajak kami (gw dan dua temen gw) berfoto. Alhamdulillah sekali serasa artis. Dan ini yang bikin berkesan. Keramahan, kenyamanan, dan kasih sayang bikin orang betah lama - lama berada di sekeliling orang seperti itu. Kadang kalau udah nyaman, hati sulit untuk melepaskan, hingga timbullah air mata keterpaksaan yang berujung pada perpisahan.

Langit siang itu mendung. Bahkan aroma bakteri Actinomycetes tercium oleh indera. Membikin aroma yang sering disebut aroma tanah, menyejukkan penciuman, menenangkan dalam pikiran, dan melapangkan dalam perasaan. Kami memaknai hujan siang itu sebagai hujan kesedihan. Ia tak rela melepas kami pulang. Menahan kami supaya lebih lama disana. Bersama mereka yang tak pernah lelah membikin kami tertawa.

Apel perpisahan, ah maksud gw apel penutupan resmi ditutup sore itu, tanggal 31 Januari 2016. Penghujung bulan yang sangat mengesankan. Tak ada tangisan, tak ada kesedihan, yang ada hanyalah harapan supaya kami semua bisa lagi bertemu di lain kesempatan.

Sebelum pulang menuju kosan yang usang, kami (gw dan salah satu temen gw) mengubur rasa penasaran. Karena pagi tadi kami hanya melihat orang-orang pada naik hart, akhirnya sore ini kami yang menaiki hart. Dan orang-orang yang melihat kami. Hingga ada salah satu selain kami, menyusul dan ikut naik menyusul.
Seru! Naik ke lantai dua dan disana terhampar pemandangan menakjubkan. Markas TNI AU, sawah-sawah, gedung, semuanya nampak dari atas sana. Di lantai dua.
Tidak puas dengan lantai dua, kami naik lebih keatas. Adrenalin mulai terpacu dan serius jantung gw degdegan. Tinggi banget coy! Tapi seru sumpah. Hingga akhirnya.....
Priiitttt..... Priiiiittttt... Priiittt.....
Lambaian tangan dan suara intruksi untuk turun dari petugas penjaga terdengar. Seketika kami menjadi sorotan dari bawah dan... Ya, gw pikir, kami terkenal seketika itu juga.~


Tamat.

Comments

Popular Posts