Alasan Menulis Versi Aku


Aku menulis bukan untuk memberikan motivasi atau penguatan hati kepada sesama. Menurut Boy Candra, saat aku membaca salah satu status di akun facebooknya, ia menulis tidak untuk menguatkan orang lain selain dirinya, ia paham bahwa dirinya juga butuh dikuatkan. Mungkin dengan sangat kebetulan, status facebook itu benar dan ia tak dapat terbantahkan. Aku pun pernah mengaku bahwa kata yang aku bentuk menjadi untaian-untaian bukan agar yang membacanya terkuatkan melainkan hanya sebuah ironi hati yang sedang tak keruan.

Ketika aku mencari solusi bertubi ketika aku sedang tak enak hati, obatnya adalah dengan menulis dan mengungkapkan segala macam perasaan diri dalam sebuah buku atau diari. Benar memang benar! Saat aktivitas menulis kulakukan, ada yang meluruh lunak dari dalam pikiran. Seakan ia terbawa dengan sengaja dan menjelma menjadi sebuah tulisan. Perasaan yang mulanya berantakan, semua tertata dengan sangat elegan dalam cipratan tinta diatas lembaran - lembaran.

Menulis mengandung hal yang magis. Aku percaya itu karena saat aku menulis, tidak ada lagi kejadian tragis atau minimal, tak akan ada nafas yang terengah dalam sebuah tangis. Ia menjadi perubah mood yang sangat efektif terlepas meski hanya sebuah fiktif yang sedang kau tulis. Ini bukan perihal mantra yang sedang dibacakan untuk mendapatkan karya yang bisa dicecap dengan manis, ini perihal apa yang bisa ditulis secara dramatis. Itulah perasaanmu. Secara drastis berubah saat kau mulai menulis.

Begitupun perasaanku.
Magis bukan?
Kau bahkan tak akan memercayai apa yang sedang aku tuliskan, itu bukan masalah besar. Aku tak memaksamu.
Kalau kau ingin membuktikan, coba lakukan!

Ngomong-ngomong, ini mulai serius, jangan kau teruskan bila kau bosan. Aku sudah biasa ditinggalkan ditengah jalan, dan bagaimana perasaanku saat itu? Jangan tanyakan hal itu. Akankah aku menulis topik baru supaya kau berlama - lama membaca tulisanku? Oh ayolah, kau dengan sangat tahu bahwa aku bukanlah orang yang seperti itu.

Terakhir kali saat itu, aku membaca kutipan milik sastrawan Indonesia yang hidup dalam era perjuangan, tentunya bukan perjuangan untuk mempertahankan sebuah tali cinta atau semacamnya, ia hidup dalam era perjuangan meraih kemerdekaan bangsa dan mempertahankan negara. Pramoedya Anata Toer namanya, dalam kutipannya ia berpesan bahwa menulislah apapun keadaannya, suatu saat pasti akan berguna. Entah kegunaan apa yang akan berguna pada tulisan - tulisanku esok nanti. Melihat sekarang tulisan yang kutulis memiliki sedikit apresiasi, sedikit sekali mulut yang mengomentari, bahkan saat aku membuat sebuah publikasi, sangat jarang yang mengunjungi. Namun esok hari, entah dua hari atau dua bulan, atau bahkan sepuluh tahun lagi, tulisan ini akan menjadi sangat berarti.
Kuharap~

Selamat pagi.

Solo, tanggal 7 Januari tahun dua ribu enam belas Masehi.

Comments

Popular Posts