Aku Percaya Kau Tak Pergi


Aku Percaya Kau Tidak Pergi


Hari ini kau hanya berkabar padaku tadi pagi. Menyampaikan pesan yang telah kau tulis sejak dini hari. Setelah itu, kau mulai pergi. Membawa dirimu dan kabarmu tanpa menyempatkan untuk menulis pesan lagi.

Kala itu, aku tetap pada tempat dudukku. Memandang layar pucat dengan perasaan yang kelabu. Cerahnya langit biru memaksa aku untuk terus menunggu dan menunggu. Meski hasilnya tetaplah seperti sepuluh jam yang lalu. Dalam layar pucat milikku itu, tetaplah pucat tak nampak sebuah notifikasi darimu meskipun hanya satu.

Kau kemana sayang? Sepuluh jam aku menunggumu dan wajahmu selalu terbayang. Membikin asa terbuang melayang pada sebuah nostalgia yang tak pernah bisa ku buang. Bahkan, aku bukannya tidak tahu kalau kau sedang bersenang – senang, menikmati ombak pantai di kepulauan seberang dengan segerombolan teman – temanmu yang selain aku, selama ini juga ikut menemanimu berjuang. Aku bukannya tidak tahu kau sedang menikmati sebuah perjalanan panjang yang membuatmu tak sempat untuk memberiku kabar dan membuatku tersenyum senang.

Tapi….

Jarak ini selalu mengurai tangis yang tak pernah bisa kau tepis. Ia selalu berpesan dalam gemerisik air mata yang tak pernah terdengar oleh siapa – siapa bahwa kau disana baik – baik saja, bahwa kau selalu tertawa memberi ceria pada siapa saja, selalu lupa pada hatimu yang aku tahu banyak rindu yang tak terbaca didalamnya.

Apakah aku masih terdengar seperti rindu yang tak pernah kau baca notifikasinya? Apa aku masih terlihat seperti pantulan kaca yang diamnya menyimpan ribuan tanda tanya sedang apa kau disana? Apa aku masih terbau seperti aroma parfum yang selalu kau hirup wanginya disaat aku bergulat manja? Meski hanya sebatas dalam pikirmu saja, aku masih tetap nyata dalam kerinduanku. Aku masih tetap nyata dalam hal merindumu. Aku masih tetap nyata dalam hal menunggumu.

Semoga kau cepat kembali membangunkan aku dari mimpi tak berujung ini. Membawa sekecap melodi yang bisa aku nikmati hari ini. Memberi sebuah harap agar aku bisa bersemangat esok hari. Dan, kau… semoga kau tetap tangguh menenangkan diriku agar aku tetap tak rapuh untuk menunggumu lagi dan lagi.


Solo, tanggal 6 bulan Januari tahun dua ribu enam belas Masehi.

Comments

  1. jangan lelah merindu ,memang berat. tapi jangan pernah lelah. jangan pernah lelah kawan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts