Kembalikan Idealisme Organisasi Kami

Belakangan  ini, organisasi kemahasiswaan mulai kehilangan jati diri. Tak hanya itu, ia  juga mulai kehilangan peminat untuk berdiri.  Bagaimana  bisa ini hanya dikatakan sebuah ilusi sedangkan realita mampu mengatakan dengan pasti? 

Dulu, organisasi sangat menyenangkan untuk didatangi. Dulu, ia menjadi tempat untuk  berbagi. Dulu,  ia juga menjadi tempat untuk berekspresi. Namun sekarang? Jangankan untuk datang, memandang saja kita sudah merasa ngeri.  Sekarang, jangankan berbagi dengan organisasi, menyapapun kami tidak berani. Banyak perpeloncoan  sana  –  sini. Membuat para peminatnya merasa terhianati dan mulai melarikan diri. 

Tidak bisa dipungkiri jika organisasi kemahasiswaan sekarang sudah dialih fungsikan. Dulu, ia menjadi tempat penampungan, sekarang ia malah menjadi batu lompatan. Dulu ia bersedia menampung kami yang memiliki bakat dan minat, sekarang ia malah mejadi sebuah batu untuk melompat meraih kuasa dan pangkat. 

Dulu tujuan kami sama, sehingga kami mampu berpegangan tangan erat bersama – sama. Kalaupun ada yang berbeda, itu malah menjadikan kami lebih dekat bahkan lebih dekat dari  saudara.  Namun  sekarang, perbedaan dalam organisasi malah dijadikan sebuah bahan untuk saling mencela. Bagaimana bisa kami merasa lebih dari keluarga dengan keadaan yang saling tercela? 

Dalam organisasi, harusnya saling menopang untuk mencapai tujuan, namun sekarang,  malah saling menikam agar dianggap sebagai pemenang.  Harusnya  kami menjadi seorang kawan, sekarang kami malah dianggap dan disebut sebagai seorang lawan. Harusnya  bekerja sama untuk kepentingan khalayak ramai, sekarang  malah bekerja untuk  keuntungan sebuah partai.  

Kini, gerakan yang diusung sebuah organisasi bukannya malah menjadi solusi, malah 
membikin polusi. Kita  lihat saja, banyak anggota sebuah organisasi membuat gerakan turun ke jalan membuat macet jalanan, berkoar mengatas namakan perjuangan, padahal mereka hanya ingin menjadi sebuah sorotan.  Dimuat  dalam harian media massa,  kemudian nanti dipanggil oleh penguasa. Untuk apa? 

Lalu  sekarang, siapa yang akan bertanggungjawab?  Siapa  yang akan mengupas dan 
mencari solusi dari masalah yang pelik ini?

Akankah organisasi kemahasiswaan ini akan terus begini?  Akankah  kita biarkan ia 
perlahan dan dengan pasti, terkubur dan hanya menjadi sebuah ingatan dalam histori?  
Akankah  sebuah organisasi kemahasiswaan hanya menjadi sebuah cerita tanpa pernah ada dalam sebuah realita? 

Jawabannya tidak.  

Bukan  perkara mudah untuk menjawab tidak. Karena dengan jawaban itu, kita harus 
mengembalikan organisasi kita menemukan kembali fungsi dan jati dirinya. Menarik 
lagi kepercayaan peminat supaya mau mendatangi lagi organisasi juga  bukan 
merupakan hal yang mudah seperti membalikkan ibu jari.  Kita  harus berjuang 
sepenuhnya, menjadikan  organisasi kemahasiswaan yang bersih dan kembali pada 
hakikat awalnya.  

Dan,  adakah solusi terbaik untuk menjadikan organisasi ini kembali pada jalur rel 
perjuangannya? Tentu saja ada. Tentu saja.  

Kembalikan  idealisme organisasi kami. Organisasi yang hidup dan berusaha hidup  menurut cita-cita. Hidup menurut patokan yang dianggap sempurna. Bukan hidup dan  berusaha hidup menurut tuntutan penguasa. 

Kembalikan  idealisme organisasi kami. Organisasi yang melaju pada rel perjuangan, 
bukan pada jalur kemunafikan.

Kembalikan  lagi jati diri organisasi kami. Dimana saat kita didalamnya,  berbuat salah dapat menurunkan  harga diri dan berbuat benar dapat  menaikkan gengsi.  

Lalu, kepada siapa rintihan ini kami elukan? Pada siapa kegalauan ini kami sampaikan? Jika  tidak kepada kalian yang terlalu berambisi kepada sebuah kekuasaan dan  sebuah jabatan?

Bisakah kalian berhenti sejenak, menghela napas dan mencoba menutup mata? Untuk siapakah perjuangan yang kalian  lakukan?  Masihkah  untuk mereka yang 
memang patut untuk diperjuangkan? Untuk para rakyat yang menderita ataukah kepada  penguasa yang terkadang selalu berfoya – foya? 

Untuk waktu kapankah hati kalian bergetar? Saat mereka  rakyat kecil  yang kelaparan memakan kulit mangga atau  saat mereka para pejabat makan dengan kekenyangan dengan istri – istri tercinta mereka? 

Dan  pada akhirnya, organisasi yang idealis dan yang mampu kembali pada fitrahnya 
yang kafah adalah organisai yang didalamnya didiami para mahasiswa yang berjuang 
bukan hanya atas nama tirani, namun atas nama nurani. Orientasi  yang harus mereka 
junjung haruslah kepada kesejahteraan rakyat  –  rakyat  kecil yang tertindas, bukan  kepada para penguasa – penguasa yang menindas. 

Sudah  saatnya kita berhenti memikirkan diri sendiri.  Sudah  saatnya kita menegakkan  kembali jati diri dan mulai melakukan sebuah perubahan yang tidak mengedepankan sebuah ego diri. Melakukan  sebuah perubahan yang lebih baik dan lebih signifikan dalam masyarakat. Memikirkan keluh kesah dan gundah galau rakyat. Karena dengan gelar kita sebagai mahasiswa, kita dipercaya sebagai penyambung rakyat dan pejabat, sehingga kita disebut – sebut sebagai penyambung lidah rakyat.  

Sudah  saatnya kita harus beda diantara keduanya.  Lebih  berpotensi dibanding rakyat  biasa, namun masih punya  kontrol dan moral  dibanding penguasa.  Tak  bisa menjadi sepadan dengan rakyat biasa, dan tak bisa sama dengan penguasa.  

Mengutip sebuah cerita dari Gie, sang idealis yang tetap idealis sampai akhir hayatnya. “Seorang Cowboy datang ke sebuah kota dan horison yang jauh. Di kota ini sedang merajalela perampokan, perkosaan dan ketidakadilan. Cowboy ini menantang sang bandit berduel dan ia  menang. Setelah banditnya mati,  penduduk kota yang ingin berterima kasih mencari sang cowboy. Tetapi ia telah pergi ke horison yang jauh. Ia tidak ingin pangkat-pangkat atau sanjungan-sanjungan dan ia akan datang lagi kalau ada bandit-bandit berkuasa.” –Catatan Seorang Demonstran

Cerita ini harusnya menjadi hal yang relevan pada masa ini. Gerakan mahasiswa  harusnya menjadi sebuah  cowboy yang diceritakan Gie. Ia tidak lemah seperti masyarakat kota dan malah mampu menang dalam duel dengan bandit kota. Tapi cowboy pergi jauh hanya untuk supaya dirinya tidak mendapatkan sanjungan atau sebuah kekuasaan. Perjuangan  yang tanpa pamrih dan tak perlu mendapatkan sorotan supaya mendapatkan sebuah pujian.  


Originally written by Faiqiyah. 
(Have been sent to an essay contest with theme "Masa Depan Idealisme Organisasi Kemahasiswaan". Presented by SEMA FAH UIN Jakarta.)

Comments

Popular Posts