Her Ordinary Evening

Deru gemuruh suara terompet bercampur dengan gemuruh bass yang ditabuh, juga kuatnya sapaan angin yang dirasa bukan menyapa karena saking kencangnya, membuat debu berterbangan kesana kemari seakan ia sangat bebas untuk pergi kemana saja. Lembut, tapi memedihkan mata, membuat kotor semua yang ditempelinya. Sore ini, 1 Muharram. hari dimana orang – orang Solo tadi malam mengadakan kirab kerbau bule di Mangkunegaran, dan sore ini kerbau bule dari Keraton Solo sedang bersiap untuk diarak nanti malam. Ini terjadi satu tahun sekali saat tahun baru Hijriyah berlangsung. Sebenarnya, yang ingin dibicarakan bukan perihal tahun baru dan kebudayaan yang terjadi pada hari itu, tapi ini tentang curahan hati seorang anak sibuk yang sore ini membolos dari aktivitas rutinnya. Cemas akan otak yang semakin lama dirasa semakin panas. Cemas akan mata yang semakin hari semakin memiliki bagian baru dibawahnya, kantung mata.

Sore ini matanya perih. Karena basah tadi malam mengalir tanpa henti. Sesak didada masih beringsut terasa namun sudah tidak terlalu menyakitkan. Banyak sticky notes menempel penuh di layar desktop computer jinjingnya. List tentang apa – apa yang masih belum ia lengkapi. Penat, saat hanya menjadi sebuah pikiran. Sejenak ia menghela napas, ingin berhenti sebentar namun jika ia lakukan, ia akan tertinggal. Penat. Sejenak ia kembali menghela napas, terasa tersenggal namun berusaha ia penggal. Penat. Sejenak ia ingin menutup mata dan mencoba berhenti, namun ia pasti akan ditinggal lari. Kembali ia membuka mata, membuat untaian kata, demi untuk memuaskan raga, supaya ia tak terlalu dahaga.

Sudah lama sekali ia tak duduk santai seperti yang sedang dilakukannya sore ini. Melipatkan kaki kanan diatas kaki kirinya, melihat dengan khusyuk warna – warni pakaian tiap orang yang sedang lewat. Sudah lama berlalu ketika terakhir kali ia menghabiskan waktunya duduk bersama dengan teman akrabnya, mengomentari setiap apa yang terlihat dijalan, dan tertawa bersama seakan mereka tidak melakukan kesalahan.

Sudah lama sekali, sejak terakhir kali ia hanya berpikir tentang materi yang harus ia kuasai esok hari. Terasa sudah lama sekali sejak terakhir kali ia hanya harus berpikir tentang pertanyaan apa yang harus ia lemparkan kepada mereka yang sedang duduk melakukan presentasi.
Kini.. ia terlalu banyak berpikir. Tentang hal – hal yang mungkin diluar dari kebiasaannya. Kini ia tak lagi bisa bersantai karena banyak sekali kesibukan yang menuntutnya dengan lihai. Bahkan, ia tidak sadar  bahwa ia telah kehilangan keceriaannya. Ia lupa caranya bahagia dengan santai dipinggir lapangan.

Mungkin kebahagiaannya mulai berubah. Yang tadinya ia hanya bahagia karena sekedar duduk santai, kini menjadi bahagia karena sebuah pekerjaan yang sudah ia capai. Lelah memang, tapi inilah sebuah perjuangan.

Basa – basi kesibukan sekarang bukan hanya menjadi sebuah wacana belaka. Sekarang ia menjadi benar – benar nyata. Tak hanya waktu bersantai yang disita, namun pikiran, fisik, dan juga tenaga. Ia ikhlas, ia tak pamrih, ia malah bersyukur. Meski tak merasa menjadi menguntungkan bagi pihak lain, setidaknya ia merasakan hidup yang benar hidup karena sebuah kelelahan.


Senja sore kali ini, terimakasih sudah datang menyambut. Pulanglah, petang sudah berdiri menyambut giliran. 

Comments

Popular Posts