Parade Tauhid Solo, Mei 2015
Btw, hari sabtu
kemarin gw ikutan parade Tauhid untuk menyambut ramadhan. Parade ini diikuti
oleh seluruh elemen umat muslim yang ada di Solo Raya. Lo tau elemen itu apaan?
Kalau menurut kbbi, elemen itu merupakan zat yang sederhana, tunggal, yang
menjadi komposisi dari alam semesta. Jadi kalau elemen muslim yakni para
tetunggal – tetunggal yang menjadi komposisi Islam di Solo Raya. Paham? Jadi
parade ini diikuti oleh seluruh aliran. Dari NU, Muhammadiyah, MTA, dan lain –
lain. Yang gw tau hanya tiga aliran itu aja. Mungkin masih ada lagi aliran yang
ga gw sebutin tapi ikut dalam parade, mohon dimaafkan. Gw ga nyangka bakalan
sebanyak ini peminat dari acara ini. dari sini gw mikir, solidaritas muslim di
Solo emang kuat banget untuk hal aksi seperti ini. Coba aja di lingkungan rumah
gw, biasanya dulu untuk menyambut ramadhan diadain pawai obor, eh lama –
kelamaan peminatnya dikit, kemudian acaranya ilang. Bagaimana bisa seperti itu?
ga solid banget kan? Beda dengan Solo. Bahkan di parade ini dari anak – anak SD,
sampe bapak – bapak ibu – ibu tua ikut. Daebak bingit.
Well, perjalanan gw dari kosan menuju tempat berkumpulnya acara adalah kurang lebih satu jam lah, dengan jarak tempuh 10 km kurang lebih segitu. Dan gw hanya berdua dengan temen gw, naik sepedah. Kurang sporty gimana gw. Jam 6 kami berangkat dan sampe tempat tujuan kira – kira jam 7 gitu.
Parade dimulai jam
setengah delapan, molor setengah jam karena lo tau kan? Ngatur peserta parade
yang bejibun gitu emang butuh waktu yang lama.
Mereka menganggap ini
jihad di jalan Allah. Dengan menyerukan tauhid di jalan – jalan dan dengan
bangga mengibarkan bendera bertuliskan kalimat syahadatain.
Gw? Sebagai peserta juga mengikuti acara ini bukan karena gw menganggap ini adalah sebuah jihad, gw cuma pengen membayar rasa penasaran gw aja. Seperti apas ih aprade tauhid di Solo? Ternyata seperti ini.
Gw sendiri beropini,
sebenarnya kayak gini hanya membuang-membuang tenaga aja sih. Abis parade kayak
beginian lo dapet apa? Kalo gw capek. Sikil teyolen-_-. Juga menyebabkan
kejengkelan pihak lain yang ga ikutan acara. Bayangkan aja, lalu lintas padat
merayap gitu jadi macet gara – gara acara ini. Juga, jalanan kotor banyak
sampah gelas aqua bertebaran bekas minum mereka. Yakeleus, jalan dari start ke
tempat tujuan itu kurang lebih 3 km, kalau lo ga minum, lo bakalan pingsan pala
berbie. Itu bukannya pusing? Whatever.
Menurut gw, jihad
yang sesungguhnya itu ketika lo meraih kemenangan lo sendiri dengan lebih
mendekatkan diri kepada Tuhan. Menyambut ramadhan dengan kesenangan dalam hati
yang sebenernya gaperlu lo pamer-pamerin seperti ini. Gausah lah dan ga perlu
berteriak – teriak. Toh tanpa berteriak pun kalau kita memang seneng dan
bahagia dengan kedatangan ramadhan, Tuhan juga bakalan tau. Tapi ya namanya
juga orang beda – beda kan, mengeskspresikan kebahagiaan mereka juga berbeda –
beda. Gw maklumi dan gw hargai itu semua.
Yang sangat
disayangkan dari parade ini, hilangnya kesadaran para participant nya
untuk menjaga kebersihan jalanan yang mereka lintasi. Padahal kan itu merupakan
jalanan umum, jalanan kita bersama, ga sepatutunya dikotori. Gw risih aja sih
liat gimana kotornya jalanan utama Solo selama parade ini berlangsung, makanya…
saat parade berlangsung, gw ga mikirin parade itu sendiri, tapi gw lebih milih
mikirin kebersihan jalanan Solo yang ujungnya, gw mungut sampah-sampah bekas
minum mereka.
Seriusan, mereka
emang ga punya aturan buang sampah pada tempatnya. Seenaknya aja buang sampah.
Ini nih yang sangat gw sayangkan. Jadi tuh gw nganggep acara parade – parade
begini tuh negative, cuman ngotorin jalanan aja. Ngerusak pemandangan jalan,
dan sebagainya. Padahal kan niat dari pelaksana parade ini kan baik, untuk
menyatukan seluruh umat agar sama – sama bahagia menyambut ramadhan, tapi..
karena gak sadarnya para pengikut acara, jadinya negative gini.
Kesan gw saat
mungutin sampah bekas mereka minum adalah, mungut sampah sebanyak itu kalo
sendirian bikin capek lillahi ta’alaa. Sumpah. Tapi untunglah gw makhluk Tuhan
yang kuat, meski cuman setengah jalan yang gw bersihin, setidaknya gw membawa
perubahan. Perubahan yang awalnya kotor, jadi bersih.
Gapapalah, meski
dampaknya ga terlalu besar.
Mungut sampah saat
kebanyakan orang lain bersibuk menikmati acara, emang merupakan tantangan
mental buat gw. Gimana enggak? Selain menikmati acara, mereka juga menikmati
untuk mencemooh gw yang sedari tadi mungutin sampah. Gw diejekin jadi pemulung,
diejekin tukang sampah, diejekin segala macem tapi gw ga peduli. Gw terus aja
mungutin sampah. Gw ga marah, gw cuman pengen nonjok aja sih waktu itu, haha
tapi yaudahlah, gw cinta kedamaian.
Kebahagiaan gw rasain
setelah gw mendongakkan kepala gw yang sedari tadi menunduk untuk melihat
sampah – sampah kemudian mungutin. Subhanallah, emang ya kebersihan itu
sebagian daripada iman. Liat jalanan yang tadi surem banget karena banyak
sampah, sekarang jadi bersih, litanya tuh adem dan bahagia! capek gw
terbayarkan coy! Merasa gw udah sakit pinggang dan napas gw udah tersenggal –
senggal di penghujung leher, gw menepi kemudian merogoh tas untuk mengambil
sebotol air mineral. Gw teguk dan…. Subhanallah sekali ya, seger banget. Napas
gw mulai normal lagi setelah beberapa detik gw atur sedemikian rupa. Lama gw
duduk dibawah pohon besar dipinggir tempat pejalan kaki, melihat para participant
masih semangat mengibarkan bendera tauhid yang mereka bawa. Gw kadang mikir,
mereka tau gak ya kira – kira, esensi dari membawa bendera kayak gitu? Atau
mereka tau gak ya esensi dari kalimat tauhid itu sendiri? Yang bertuliskan
dengan tinta hitam di bendera mereka. Entahlah. Gw emang suka mikir konyol. Eh
tapi itu bukan pertanyaan konyol sih, ini serius. Tapi gw ga terlalu serius
nanggepinnya. Biarlah itu semua menjadi pertanyaan retoris yang sejati. Oke.
Sekelumit cerita
pemungut sampah ketika parade tauhid berlangsung selesai.
Kemudian, ………..
Gw ga habis pikir
gimana perasaan walikota Solo sekarang yang beragama bukan Islam. Dia tau gak
ya kalo hari itu dia sedang dibicarakan? Dengan secara pragmatis sebagian dari
orang muslim ingin dirinya mundur dari kursi jabatan dia, karena alasan dia
bukan seorang muslim. Di akhir acara parade, gw melihat adanya suatu keinginan
agar walikota Solo sekarang mundur dari jabatannya. Sebagian dari
orasi-orasi entah gw gatau dibawakan oleh siapa, berisi tentang permintaan
kepada walikota untuk mundur. Atau lebih tepatnya, mereka ga setuju aja kalau
Solo dipimpin oleh orang selain Islam. Yaaa gitu deh, terlalu fanatik sama
Islam jadinya begitu. Menganggap semua yang bukan Islam adalah tidak benar. Padahal
sih menurut gw, pemimpin itu kan ga harus selalu dan melulu orang Islam,
mengingat kita juga disini di Indonesia memiliki pluralitas agama. Menurut
mereka kan kalau pemimpin yang bukan Islam adalah tidak benar, tapi menurut gw,
sah – sah aja sih alias benar. As far as that leader is not disturb the
Muslim activity, it’s okay. Lo percuma lo milih leader yang Islam tapi
aktivitas keIslaman lo keganggu. Selama ini semenjak bapak walikota Solo yang
bukan Islam menjabat, bukankah aktivitas keIslaman lo ga terganggu atau bahkan
ga terbatas sama sekali? Bukankah dia sebagai orang yang bukan Islam menghargai
lo semua yang Islam untuk tetap menjadi warga dan tetep menjadi Islam? Tapi
kenapa lo yang Islam gak menghargai dia untuk tetap menjadi walikota dan
menjadi non Islam?
Iya gw tau kalian
pada marah, jengkel, karena salah satu dari golongan kalian ga bisa menjadi
pemimpin di wilayah Solo kan?
Tapi, sekali aja, apa
kalian pernah mikir golongan lain selain kalian? Pernah ga mikirin perasaan
mereka? Jengkel dan marahkah mereka saat salah satu dari golongan mereka ga
terpilih jadi pemimpin? Mungkin mereka sama marah dan jengkelnya, tapi yang
mereka bisa perbuat hanyalah menerima. Kesadaran bahwa memang Indonesia adalah
negeri yang plural, bahkan Solo juga wilayah yang plural untuk agama, menuntut
kita untuk menjadi individu yang harus saling menghormati. Semua emang udah
punya tugas masing – masing. Semua punya kemampuan masing – masing. Mungkin sekarang
masih belum ada pemimpin dari golongan kita yang memilikii kemampuan sebagus
pemimpin golongan lain.. mungkin memang sekarang kepemimpinan akan dikerjakan
dengan baik bukan dari salah seorang dari golongan kita. Kita harus terima.
Untuk jadi pemimpin kan ga gampang, harus punya kemampuan yang mengarah pada
baiknya kualitas kepemimpinan itu. Kalau memang dari golongan kita (Muslim) ga
punya kemampuan sebagus golongan laon, harus diasah-lah kemampuan itu agar
mampu bersaing dan bahkan menjadi yang terunggul diantara golongan yang lain.
Biar bisa jd walikota yang baik. Gitu.
At least, gw sih
begini aja… Walikota biarlah ia bersibuk dengan tugasnya sebagai walikota, kita
warga biarlah kita sibuk dengan tugas kita sebagai warga.
Conclude nya,
seperti yang udah gw tulis tadi, selama saling menghargai dan ga ngeganggu
rakyat, sah – sah aja sih untuk jadi pemimpin.
Well, gw agak pusing
sih tentang bahasan gw yang terakhir tadi. Gw ga terlalu ngerti apa – apa,
cuman gw menyampaikan apa yang jadi pemikiran gw. Lo boleh aja ga setuju dengan
pikiran gw, toh memang pemikiran lo dan pemikiran gw pastilah beda.
Untuk Solo yang
bersahabat, menuju Indonesia yang bermartabat. Eaaak gw nulis apaan. Hahaha
Terimakasih semuanya,
see you soon di tulisan gw selanjutnya.
Babay♥

Comments
Post a Comment