Perihal Aku, Kamu, dan Teori Big Bang

Aku masih bingung untuk berkesimpulan.. dingin ini apakah karena sisa basah yang tersisa dari hujan semalam ataukah hawa pagi memang semenakutkan ini untuk dijamah? Dingin sekali…

Masih jelas ampas embun di pohon tak bernama didepanku. Mencoba untuk menapak sisi lain yang lebih kebawah, membuat daunnya melandai mencapai tanah.

Sudah lama sejak tulisan terakhir kali dibuat.. tak sadar akan rentang waktu yang berlalu begitu saja tanpa membuahkan sebuah karya.. tapi saya bimbang, apakah tulisan tak bertema ini patut untuk disebuah karya?

Kali ini bukan tentang kerinduan yang tiap hari kian aktif membelah diri menjadi sebuah jelmaan hasrat untuk bertemu, kali ini bukan sebuah rindu yang untuk membahasnya butuh banyak lembaran kertas untuk menulis atau bahkan tak butuh selembarpun kertas? Karena pada hakikatnya rindu bukan untuk dituliskan, tapi untuk di pertemukan…

Pengantar tentang rindu saja bisa memakan banyak basa – basi disini..

Jadi, apa pembahasan kali ini?

Tentang, kamu. Dan aku tentunya..

Tadi malam, pembahasan mengenai bigbang sempat ter-pending bahkan mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk memperdebatkannya denganmu. Tidak cukup disesalkan karena ada hal lebih penting yang sedang aku kerjakan malam itu.. namun masih saja teori itu mengganjal.. menjadi sesuatu yang tak bertuan dalam pikiran, membuatnya harus segera disingkirkan.

Kamu, menyatakan diri bahwa kamu tidak percaya pada teori itu? Siapa sih yang menemukan teori Big Bang? Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa semesta ini terbentuk karena ada ledakan dahsyat dari satu zat tunggal?

Aku, yang memang dengan sukanya membantah opini orang lain, bahkan opinimu, aku berusaha mengelak dan tidak membenarkan pernyataanmu tadi. Aku ingin mengintimadasi agar kamu berubah dan sejalan dengan pikiranku. Aku menganggap teori itu ada dan memang ada. Tanpa pernah tau penelitian yang bagaimana yang semestinya aku lakukan untuk membuktikan bahwa teori itu benar- benar ada.

Pertanyaannya, “bagaimana bisa jika semesta terbentuk dari sebuah ledakan, ia bisa dengan tertata rapi dan seindah ini?” kira-kira begitu kan yang kau pikirkan?

Dan aku, dengan gampangnya menjawab, “kau pikir ledakan itu terjadi begitu saja? Aku yakin Dia tak akan dengan sembrononya meledakkan semesta tanpa ada akurasi yang tepat. Pasti ada perhitungan tertentu agar ia bisa meledak dan terpecah menjadi sesuatu yang rapi seperti sekarang ini.” Lagipula, jangankan semesta, benang kusut sekalipun memiliki pola.

Dan aku masih ragu dengan pernyataanku tadi. Perhitungan yang bagaimana yang Dia lakukan?

Dan kau, masih saja tidak percaya… kau bilang “Aku lebih suka teori Al Kindi yang menyatakan bahwa sesuatu yang ada berasal dari ketiadaan.”

Aku pikir itu pemikiran Socrates dan kutipan itu ada pada bagian teratas buku Dunia Sophie bab awal. Aku mengingatnya dengan jelas.. “….pada suatu titik, sesuatu berasal dari ketiadaan.”

Memang benar adanya, suatu berasal dari ketiadaan. Tapi yang kita bicarakan kali ini kan mengenai teori big bang, tentang metode pembuatan alam semesta, bukan?

Bahwa awalnya, ada zat tunggal yang tercipta dan kemudian meledak dahsyat menjadi bagian – bagian seperti halnya planet, matahari, bulan, bintang, dll. Jika kita bawa ini dalam kaidah agama, mari kita buka surat Alquran ayat An Nazi’at ayat 28 yang dengan eksplisit tertulis “Dia telah Meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,” bagaimana bisa kau me-interpresentasikan kalimat ini? meninggikan bangunannya yakni dengan mengembangkan wujud yang terdiri satu dzat tunggal tersebut, mengembang mengembang mengembang lalu kemudian lanjutan kata “lalu menyempurnakannya” berarti meledakkannya menjadi kesempurnaan – kesempurnaan ciptaan yang sedari kita bahas. Semesta.

Aku suka sekali menginginkan semesta mengamini harapanku. Sugesti yang aku buat, semesta sangat luas dan aamiin yang mereka lantunkan pasti lebih didengar Tuhan.
Kembali pada penafsiran singkat dan mungkin sangat mudah sekali. Karena aku memang suka berpikir mudah tidak suka merumit-rumitkan, terlepas dari itu, apakah iya penafsiranku terhadap satu ayat itu benar apa adanya?

Konklusi apakah teori bigbang ada atau tidak ada, masih menjadi misteri antara kita berdua. lain kali kita harus membahasnya sekali lagi, ya? Kau mau kan? Aku masih sangat penasaran dan tak mau diam begitu saja atas penasaranku ini. lagian, kenapa kamu harus bertanya tentang kepercayaanku mengenai teori ini? haruskah aku percaya? Bahkan percaya pada teori bigbang tidak masuk pada daftar rukun iman. Ahahaha, bercanda.

Kalau kamu menemukan teori yang bisa mematahkan teroi bigbang, beritahu aku ya?
Suatu pernyataan yang kamu buat bahwa semua berasal dari ketiadaan itu menurutku bukan sebuah teori terciptanya semesta. Entahlah aku harus menyebutnya apa. Karena sebuah ketiadaan juga merupakan sebuah keadaan sebelum keadaan itu ada.

Terimakasih atas pertanyaanmu tadi malam hingga tulisan ini tercipta.
Kurang lebihnya, aku menerima koreksi bagaimanapun bentuknya.

Thankyou.

Comments

Post a Comment

Popular Posts